Arsip

Archive for the ‘artikel renyah’ Category

Tweet @AkbarLaksana dari paradigma berfikir, NIC, sampai Bisyarah Khilafah

Tweet @AkbarLaksana dari paradigma berfikir, NIC, sampai Bisyarah Khilafah

  1. Saat ada seseorang yg berargumen maka analisislah paradigma brfikirnya..
  2. …krna ia berargumen pasti sesuai padigma berfikirnya, apalagi kalau ia terkenal bukan sbagai orng yg suka ceplas-ceplos..
  3. …dengan begitu engkau akan lebih bijak dlm memahami ssorang, dan mempermudah utk menemukan cara mengerakkan org tsb..
  4. ..atau yg paling mudah kau akan menyimpulkan siapa org tsb dri carax brbahasax dan berfikirx. Seperti mnyusun puzzle..!
  5. …Dalam kondisi yg lebih besar, kegiatan ‘menyusun puzzle’ itu bs disebut analisis politik..
  6. ..analisis politik dimulai dari kegiatan mengamati berbagai kejadian2 dan memilah keganjilan yg terjadi..
  7. …dari situ akan mengkerucut sebuah kesimpulan. Entah kejadian tsb direkayasa, atau efek domino dari rekayasa akar..
  8. ..rekayasa pasti tak lepas dari kepentingan yg merekayasa. Kita tinggal mencari apa tujuan dan motif rekayasa tsb..
  9. ..kmudian dgn mngatahui tujuan, motif (kepentingan) rekayasa kjadian tsb, tentu akan mprmudah mncari siapa dibalik rekayasa itu semua.
  10. ..dan itulah yg disebut dgn TEORI KONSPIRASI.
  11. ..dengan menggunakan TEORI KONSPIRASI , bahkan kita bs memprediksi kejadian / efek kejadian rekayasa apalagi yg akan terjadi kedepannya.. Read more…

Hidden Power (Mungkin POPCORNzine #07)

14 Agustus 2011 3 komentar

Hidden Power

Lama tak bersua. Kemana gerangan POPCORNzine imut-imut yang biasanya nampang di mading, meja, kursi, bahkan dibak sampah kampus dengan judul-judul serampangannya..?

Mati kah ia. Oooh pasti semua yang pernah mengenalnya dan membacanya pasti kan menyanggah tidak. Karena POPCORNzine memang sudah mati sejak ia dilahirkan. Merupakan takdir bagi selebaran butut tersebut menjadi benda mati yang digunakan penulisnya sebagai sarana memuntahkan berbagai pemikiran yang mungkin sesak ia pendam sendiri, yang mungkin akan lebih berwarna dunia baginya kalau ia mampu membagi..

Serorang lelaki tua itu terduduk termenung seorang diri. Pandangan matanya yang kabur diarahkan menghadap cakrawala langit yang kelabu. Ia megidap gundah gulana yang bergejolak, seolah terdapat bom C4 pada dirinya yang kini membunyi melekik tiap detiknya menunggu waktu meledak. Oh.. seandainya ia mampu untuk sebentar membuka laptop dan mengakses internet, maka perasaan yang saat ini tren dikatakan galau itu akan tersampaikan pada dunia.. akan ia kabarkan pada semesta maya,  bahwa sebuah cerita muram mengalun tentang dirinya..

Seperti halnya komedi gue pun muncul tiba-tiba.. tring! Read more…

“Kawinin kakak ku..” (Sambungan Perfect Thurt) POPCORN edisi 6 ½

14 Agustus 2011 5 komentar

“Kawinin kakak ku..” 


(POPCORN edisi 6 ½ ..? iya emangnya kenapa. Inikan selebaran suka-suka. Jadi nomor edisinya juga suka-suka. Lagi pula edisi kali ini masih sepupuan sama edisi enam kemarin kok..)

Hari itu begitu terik, namun panasnya tak menyengat kulit, dikarenakan gue asik berteduh dibawah tenda yang sengaja dipasang diatas tribun S3.3 Stadion 17 Mei kala itu. Pelangak-pelongok karena tribun masih belum sesak. Beberapa teman yang bertugas menjadi panitia sedang cihuy dengan tugasnya masing-masing. Sambutan-sambutan dari MC di panggung besar ditangah lapangan membahana membakar suasana bersemangat di pagi hari, dalam sebuah momen Konferensi yang menyedot ribuan masyarakat Kalsel.

Sambil menikmati snack dengan gagah perkasa, tiba-tiba kantong celana bergetar-getar. Sepertinya ada pak POS di dalam HP yang melapor membawa pesan,

[From 082119197xxx : kwni k2 q..]

Waw! Ada apa ini?! Sebuah sms dari nomor yang tidak dikenal, dengan pesan yang begitu menampar : Kawini kakak ku. Emang gue salah apa..? perasaan belum pernah hamilin anak orang. Belum pernah juga koar-koar udah kebelet nikah. Belum pernah pula rasanya bikin masalah sama anak gadis orang. Langsung tengok kanan kiri mencoba mencari apa ada kawan yang lagi ngerjain. Atau cari kamera tersembunyi kalau-kalau lagi masuk acara realityshow. Read more…

The Perfect Truth

9 Maret 2011 3 komentar

Perfect Truth


Ada sebuah cerita  yang masih gue ingat dan cukup seru buat gue ceritakan kembali..

Ceritanya begini, ada empat orang pemuda tuna netra yang ingin mengetahui apa itu gajah. Lalu, oleh seorang yang tidak tuna netra, mereka berlima diajak ke kebun binatang dimana gajah bunting berada. Setibanya dilokasi, masing-masing dari keempat pemuda itu kemudian meraba-raba si gajah bunting dan kemudian mendeskripsikan apa itu gajah menurut mereka.

Pemuda pertama mendeskripsikan lebih dulu, “gajah adalah sesuatu yang cukup lebar dan tipis juga elastis seperti kipas..”

“Bukan! Gajah itu sesuatu yang keras sekali, panjangnya kira-kira tiga jengkal, lumayan licin, runcing dan tajam pada ujungnya..”,Pemuda kedua menyalahkan pemuda pertama.

“Salah! Gajah itu lentur, kecil tapi panjangnya kira-kira sepanjang lengan, dan diujungnya ada sejumput rambut”, Pemuda ketiga menyalahkan kedua teman tuna netranya.

“eit..eit.. kalian salah! Gajah itu seperti telur yang amat besar sekali, tapi tidak keras melainkan cukup empuk meski permukaannya agak kasar..”, Pemuda keempat ikut menimpali.

Kalian salah!

Tidak! Kamu yang salah!

Kamu tuh yang salah..!

Tidak, Cuma saya yang bener! Read more…

Someone behind Somebody

Someone behind Somebody


Suatu ketika disebuah sudut dunia imajinatif..

Dalam beberapa saat, gue pernah mengalami kerancuan berfikir mengenai pencapaian sukses. Dahulu yang tertanam dikepala ini sebuah kesuksesan merupakan pencapaian pribadi dengan tekad yang kuat untuk mencapai visi dengan disiplin nan penuh komitmen. Gue pun pernah menganggap sebuah prestasi yang telah tercapai merupakan hasil dari pengasahan disiplin intelektual pribadi. Sepenuhnya merupakan hasil dari kaidah kausalitas (saja) yang telah dijalani hingga seseorang yang seriuslah yang berhasil mencapainya. Tapi tahukan anda..? ternyata pemahaman itu keliru..!

Manusia bukanlah makhluk yang memiliki kekuatan untuk mengukuhkan dirinya. Manusia adalah makhluk yang tak mungkin memiliki eksistensi tanpa bantuan sekitarnya..

“Interupsi! Memangnya kenapa? Menurut eiyke sih bener-bener aja bang..! , seorang banci dari ujung ruangan menyahut.

“Bukankah seseorang bisa ‘menjadi’ jika ia berusaha mewujudkannya. Jika kita ingin menjadi pedagang martabak telor yang sukses maka kita akan berusaha menjalani arah menuju keinginan kita. Jika sudah menjadi pedagang mertabak telor yang sukses, maka itulah keberhasilan yang kita dapatkan karena hasil jerih payah kita, bukan jerih payah orang lain. Ya kan..? Begitu pula jika ingin menjadi terkenal secara intelektual maka kita yang mesti merancang bangunan menuju puncak pencapaiannya. Dan hal itu merupakan hasil pencapaian kita seutuhnya. Read more…

HARD LEVEL!

Hard Level!

 


 

Kadang kita selalu dihadapi oleh berbagai aral sepanjang perjalanan kita menempuh tujuan. Sayangnya, yang paling sering terjadi, kita selalu merasa lemah dan tak mampu untuk menghadapi halangan  tersebut seraya mengambil langkah mundur : putus asa, menyerah, berhenti.

Padahal segala halangan dan rintangan merupakan sebuah tantangan bagi seorang pejuang. Yang semakin lama dia menempuh perjuangannya –seharusnya- akan semakin beragam dan sulit pula tantangannya.

Seorang samurai besar pasti akan merasa harga dirinya direndahkan apabila pihak lawan lebih memilih menerjunkan seorang bocah untuk menjadi lawan tandingnya. Bagi dia yang sudah berada di level jauh lebih tinggi dibandingkan bocah yang bahkan belum kuat untuk memegang katana itu, akan merasa lawannya tidak sepadan dan tidak pantas berhadapan dengannya. Karena, buat apa selama ini dia berlatih dan mengalahkan berbagai samurai lain yang hebat, hanya untuk dihadapkan dengan hal remeh temeh, yang bagi dia merupakan sesuatu yang sepele.

Sama halnya pula, kita mungkin pernah bermain game dan saking keranjingannya kita berhasil sampai level sangat tinggi yang sulit dicapai. Namun, suatu saat dalam level yang tinggi kita malah mendapati permainan itu semakin mudah, bukankah membuat kita malah menjadi kurang bersemangat untuk meneruskannya?

Kita mungkin akan berseloroh.. “halah..! musuh di level satu buat apa muncul lagi dilevel lima puluh ini..? terlalu mudah! Gak ada yang lebih menantang nih..?!” tentunya kita akan menuntut tantangan yang lebih sulit dari tantangan yang biasa kita hadapi. Tantangan yang akan melatih kita menjadi professional  dalam permainan itu. Yang menjadikan kita master dan berhasil menempuh level-level berikutnya dengan skill yang sudah terasah tajam dari level permainan sebelumnya.

Ego akan menuntut pemuasan..

Lantas, kenapa? kenapa kita selalu merasa paling melarat didunia saat tantangan itu muncul dalam kehidupan nyata? Kenapa kita cengeng saat ujian yang sebenarnya adalah tantangan dan harus kita selesaikan untuk menaikan derajat (level) kita itu muncul? Kenapa kita membanci jikalau tantangan itu menguras harta benda, dan mungkin bahkan fisik yang selama ini sangat penting bagi kita?..

Sedangkan disaat kondisi kenasiban kita stabil dan adem ayem, kita selalu bergombal ria ingin menjadi seorang pejuang muslim yang tangguh dan mengharap ditinggikan derajat sehingga pantas disejajarkan dengan para sahabat.. Kita asik bermimpi ria mendapatkan hadiah yang terbaik di surga atas semua perjuangan yang selama ini sudah kita rasakan puas.

Padahal tidak ada jalan lain untuk menaikan level selain menaikan taraf kesulitan dilevel. Apa bedanya kalau level sebelumnya tidak berbeda dengan level sesudahnya..?

Mana mungkin Allah menguji ‘orang besar’ dengan ujian yang ‘kecil’?

“Apakah kamu mengira akan dibiarkan begitu saja, padahal belum terbukti bagi Allah orang-orang yang berjuang diantara kalian?” (QS.At taubah [9]:16)

Ujian merupkan jalan bagi seorang mukmin mendapatkan identitas kesejatiannya. Ujian yang bertubi dan meningkat merupakan hiasan perjalanan dakwah Rasulullah, para sahabat, tabi’in, tabi’at, tabi’in tabi’at dan seluruh pejuang islam. Ujian merupakan komponen dalam kurikulum ketaqwaan. Ujianlah yang menjadikan  seseorang tangguh dan membentuk diri hingga pantas disebut ‘pejuang’ dengan embel-embel ‘sejati’ karenanya..

Kemudian apakah sekarang kita masih takut dengan ujian yang sebenarnya tantangan itu??

Sabar, tawakal, dan terus berusahalah teman.. dan daki level-level itu secara perlahan..

“Allah tidak akan memberikan beban (taklif) kepada seseorang diluar batas kemampuannya” (QS.Al Baqarah [2] :286)

“Hai orang-orang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolong dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad [47]:7)

(akb)(28-10-2010)

Pendaratan Ideologi

28 Desember 2009 3 komentar

 

tulisan ini padahal buat NeoRevolutove Micromagz edisi 9 dan saya kirim juga ke redaksi Badai Otak Yogyakarta. mudahan aja bisa dimuat. hehe…

Pendaratan Ideologi

Ibarat mencoba menghidupkan sebuah lampu di ruangan yang gelap gulita, maka merupakan langkah yang benar dan –seharusnya- diteladani pula oleh siapapun. Karena dengan penerangan cahaya tersebutlah semua orang bisa melihat dengan jelas mana yang seharusnya dan mana yang tidak. Bagaimana keadaan ruangan, siapa saja yang ada diruangan tersebut, dan apa saja benda yang terletak disekitar, yang tentu tak akan terindra pada keadaan hitam pekat. Bayangkan saja seandainya kita ingin menghisap sedotan, namun karana ruangan yang gelap gulita, kita malahan menghisap pisau. Auw! Apakah asik punya air mancur darah di lidahmu..?!

Namun, kita akan pula mencak-mencak kasar apabila lampu yang kita hidupkan dengan susah payah, tiba-tiba dimatikan-atau selalu ada upaya untuk mematikannya- dari pihak-pihak tertentu. Pihak tersebutlah yang menikmati hidup dalam kehampaan penerangan. Minimal hidup dalam ke-abu-abuan atau redupnya cahaya. Mereka tak suka apabila cahaya menerangi maka akan terlihatlah belang kemunafikan mereka. Akan terpampang jelaslah keburukan tabiat mereka yang selama ini tertutupi oleh kepekatan gelap.

Begitu pula lah gambaran ketika 15 abad silam. Sebuah upaya penggelapan selalu digencarkan oleh pihak kafir yang menentang akan kebenaran dan keterangan cahaya islam yang dibawa oleh Muhammad saw. Mereka tak rela sama sekali apabila islam yang konfrehensif tersebut menggantikan segala aturan thagut mereka yang begitu dipuja dan mentradisi. Kemudian tersejarahlah berbagai perang, rencana, konspirasi, untuk menghangus musnahkan islam yang di gencarkan oleh mereka. Namun sayang, islam ternyata malah semakin meluas hingga 2/3 bagian dunia, dan memimpin serta mensejahterakan semua penduduknya juga mencerdaskan pemikiran.

Keberhasilan semua itu terjadi bukan karena semangat para kaum muslimin semata. Karena seperti yang kita ketahui, seorang pejuang yang hanya bermodalkan semangat pasti suatu saat apabila semangatnya hilang maka ia akan hengkang dari perjuangannya. Namun beda! Kaum muslim di didik untuk sebuah kesadaran. Kaum muslimin memiliki kesadaran yang kuat bahwa islam merupakan satu-satunya ajaran yang benar dan memiliki metode yang menyeluruh dalam semua aspek. Islam diturunkan untuk mengatur segalanya, bukan sekedar menjadi pemuas spiritual layaknya agama biksu dan pendeta! Islam merupakan ideologi, yang membuat semua pengembannya ‘bergetar’ untuk menyebar luaskannya. Walau tak seorangpun meminta ia menyebarkannya..

Kembali ke realitas kekinian, kembali menyaksikan cahaya yang terang semakin redup ingin dimatikan. Berbagai serangan dalam dan luar dari tubuh islam begitu mengancam untuk menggelapkan kembali panggung dunia. Ideologi liberal-kapitalisme dengan inti sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan) telah menumbangkan ideologi sosialis-komunisme yang berpangkal dari atheisme (paham tak bertuhan). Dan kini kapitalisme lah yang merajai dunia redup cahaya ini.

Antek kapitalis menyadari betul bahwa islam merupakan ancaman mematikan bagi ideologi laknat mereka. Mereka takut, apabila kaum muslimin kembali sadar bahwa islam merupakan aturan yang menyeluruh. Mereka ciut, apabila kaum muslimin tidak sekedar memperlakukan islam sebagai agama mahdah-ritual belaka, namun menjadikannya juga sebagai patokan, pedoman, alias ideologi yang ‘menggerakkan’!.

Maka akan terulang kembalilah kehancur totalan kekufuran dimuka bumi ini, layaknya dizaman Sang Mulia Muhammad.saw membawa islam yang berkilau cahaya dan menghapuskan kegelapan total. Akan kembali berjayalah islam memimpin peradaban dunia yang pernah berlangsung lampau selama 13 abad lebih, yang sayangnya berhasil diruntuhkan oleh konspirasi Mustafa Kemal seorang agen barat pada tahun 1924.

Sekarang percik-percikan cahaya tersebut mulai terlihat disegala pelosok. Percikan tersebut kecil, namun bergerak perlahan dan pasti. Seolah semakin membuktikan kebenaran janji Rasulullah bahwa islam akan kembali bangkit setelah beberapa saat jatuh tertumbangkan. Kilauan kecil cahaya tersebutlah adalah generasi baru peneladan para sahabat yang terus konsisten dan ikhlas memperjuangkan islam secara murni. Mereka biasa dicap radikal/fundamentalis namun tak anarkis maupun menggunakan kekuatan fisik. Mereka hanya tampil untuk melakukan pergulatan pemikiran. Selalu berupaya membenturkan pemikiran cemerlang ideologi islam dengan pemikiran sampah ideologi kapitalis-sosialis. Hingga terpampang jelaslah kebenaran hakiki itu berasal hanya dari dien mereka.

Pendaratan ideologi kedalam otak-otak setiap manusia merupakan langkah perlawanan mereka terhadap sistem menyengsarakan ini. Pembongkaran makar kafir yang terselimuti citra indah selalu mereka belalakan dimata setiap insan. Dan tak pernah lelah selalu terjun dimasyarakat untuk melakukan interaksi yang massiv. Hingga satu hal yang mereka impikan : kembalinya islam memimpin dunia, mensejahterakan dunia dan akhirat. Tak kurang dari itu!


Categories: artikel renyah

Our styles

21 Agustus 2009 2 komentar

Our stylesreggae

Bukan ku enggan, pikirkan masa depan..

Atau juga, bukan ku tak berangan-angan…

Tapi ku enggan, hidupku jadi beban…

Terkekang, aturan, yang menyesatkan..

Woo.. yeeah..”

(steven & coconutrez)

Tak gendong… kemana-mana..

Tak gendong… kemana-mana..”

(Mbah Surip)

Berawal dari melihat gelang seorang teman lama yang berwarna merah-kuning-hijau khas jamaika, membuat saya tergerak ingin menuliskan esai pendek ini, sekedar bercerita apa yang akan dimaksudkan. Dan itu mengingatkan saya dengan gaya hidup rastafaria.

Rastamania.. Kalian tau kaum rastamania? Yang memegang ajaran rastafaria sebagai pedoman segala tingkah lakunya? Kalau gak ngerti juga, kalian pernah melihat orang-orang berambut gimbal gak karuan? Yang biasa bergoyang dengan alunan irama khas mereka, yaitu reggae?. Ya! Almarhum Mbah Surip adalah salah satunya!

Itu lah kaum rastamania. Kaum atau sekelompok komunitas yang biasa terlihat mengenakan kaos berwarna bendera Jamaika, gelang berwarna bendera Jamaika, ataupun kupluk, tas, dan kaos kaki berwarna merah-kuning-hijau khas Jamaika. Mereka juga sering berkumpul di café-café ataupun di Bar khusus kelompok mereka. Atau biasa di temui di pinggiran jalan sambil menyorak-sorakkan salam perdamaian. Kalian tau dendangan lagu-lagunya?? Yah, contohnya seperti bait di atas. Yang di bawakan steven & coconutrez juga Mbah Surip pemusik reggae Indonesia.

Gaya hidup para reggaeman ini mungkin gak seterkenal seperti aliran semacam punk, emo, skinhead, rocker, dan yang lainnya yang gak terlalu asing lagi kita kenal di media masa atau lingkungan kita. Tetapi, rastafaria style ini cukup di segani oleh para muda-mudi di Negara lain, seperti Amerika khususnya para kulit hitam, dan para orang-orang cinta damai di seluruh dunia.

Aliran ini pertama kali di kenalkan oleh Bob Marley “The Rastaman”. Seorang Jamaika yang hingga kini sangat dihormati seluruh orang di negaranya. Juga di akui oleh bangsa-bangsa di sekitar negaranya. Soalnya Bob Marley adalah tokoh yang berhasil mempersatukan bangsa Jamaika yang waktu itu sering dijadikan budak oleh penjajah. Dengan ajaran rastafariannya yang intinya ingin mempersatukan rakyat Jamaika dengan penjajah.

Bayangkan, hanya dengan sekedar mendendangkan lagu-lagu irama khas reggae yang lirik-liriknya selalu mengacu pada perdamaian, dan pengkritikan terhadap pemerintah, Bob Marley bisa membuat perubahan besar terhadap keadaan di negaranya yang pada saat itu sedang kacau balau. Bob Marley bisa menyatukan banyak suku di Jamaika agar bersama-sama bergerak melawan ketertindasan. Bob Marley bisa membuat ribuan orang di seluruh dunia membenci perang dan selalu merindukan perdamaian.

Kalau diIndonesia mungkin persis seperti Iwan fals dan Frans Sahilatea yang dengan lagu-lagunya turut ikut andil dalam perjuangan Reformasi di negri ini. Yang walaupun dengan lagunya yang membuat pedas kuping pemerintah itu, Iwan Fals sempat di penjarakan oleh pemerintah rezim soeharto.

Dan mungkin sama pula, pada 13 abad yang lalu dengan lisan seorang Muhammad saw. yang berhasil membuat bangkit bangsa-bangsa arab jahiliyah yang bodoh menjadi kaum yang berjaya di muka bumi ini. Bahkan dengan lisan sang Muhammad pulalah terbangun negara super power Islam, yang pada saat kejayaannya itu mencakup 2/3 wilayah bumi. Sekali lagi ,hanya sekedar buah hasil dari “untaian lisan” tokoh-tokoh tersebut yang berefek luar biasa.

Sekarang, menurut gue metode Bob Marley tersebut pantas buat di contoh. Tentunya dengan sedikit modifikasi. Ya, sama. Kita tetap menggunakan lisan sebagai penyebaran ajaran kita. Namun, sedikit lebih besar dan harus lebih intensif dari pada Bob Marley. Soalnya, kita tidak hanya menyuarakan ‘suara’ kita pada negri tempat kita berada saja. Tetapi, meluas keseluruh alam semesta. Dimana ada ciptaan sang Maha Kuasa.

Kita juga akan membuat trendsetter khas kaum kita juga. Segala pernak-pernik kita akan kita jadikan universal style di Bumi ini. Gaya rambut, pakaian, tingkah laku, aturan, sistem akan selalu sesuai dengan gaya kita yang diperintahkan oleh Pencipta kita. Dengan sebelumnya mengubah yang ada ini, yang sudah bobrok dan tak layak pakai.

Segala aktivitas di bumi ini juga harus mengikuti gaya hidup aliran kita. Yah.. paling tidak gerakan kita ini persis bahkan sama dengan yang dilakukan Muhammad saw. Pada saat awal-awal perjuangannya menyebarkan alirannya. Okey? Let’s bahana-kan lisan perjuangan kalian! Chaa… youuuu…!!! (premanygcumatakutsamaAllah)

Categories: artikel renyah

Independence Day

Independence Day

Tiba sudah bulan Agustus. Bulan yang dimana kawan gue si Agus muncul ke muka bumi setelah di pendam emaknya selama 9 bulan lebih. Dibulan ini si Agus pasti lagi hepi senyum sumingrah. Soalnya kalau enggak baju baru, pasti hadiah kejutan akan di berikan si emak buat anak tersayangnya itu. Yang bertambah umur diikuti oleh meningkatnya prestasi akademiknya di sekolah. cihuy!

Tapi, kalau lagi jalan-jalan dibulan lahirnya si Agus, bukan hanya dia saja yang lagi hepi. Karena entah kenapa rakyat negri ini juga jadi ikutan hepi menyambut bulan agustus ini. Lihat aja sekeliling, pasti mata kita akan sering melihat dua warna yang kontras dimana-mana. Kalau tidak merah, ya.. warna putih. Warna bendera negri ini yang dipasang diseluruh jalanan, pohon, hinga gapura-gapura komplek perumahan yan membuat semarak. Spesial lagi pas tangal 17-nya. Konon itu adalah tanggal yang tepat dengan tanggal dimana Indonesia memploklamirkan diri dan mengaku merdeka dari penjajahan.

Dan kalau ingat tangal 17 agustus , gue jadi ingat zaman masih SMA dulu…

Saat dimana seluruh siswa sekolah diwajibkan masuk sekolah ditanggal merah, hanya sekedar untuk berdiri tegak dilapangan. Saat itu, penaikan bendera di hari kemerdekaan pun di langsungkan, lapangan yang biasannya di gunakan kawan-kawan ku main basket kini menjadi tempat berdiri tegaknya ratusan orang. Kelompok paduan suarapun bernyanyi dengan riangnya. Sementara, di tengah lapangan ratusan orang tadi bercucuran keringat karena kepanasan. Ketika, seluruh tangan terangkat untuk menghormati selembar kain yang naik menuju ujung tiang yang tinggi, gue dengan indahnya masih ngupil dan cekikikan dengan kawan-kawan.

Pidato yang sama sejak bertahun-tahun yang lalu itu pun di bacakan dengan semangat yang membara, hingga mendengung di speaker yang mungil. Sama halnya dengan di film-film
dahulu yang sering di siarkan di televisi menyambut hari kemerdekaan negara
ini, film-film diorama peperangan. Yang menggambarkan peluru bersliweran kesanakemari “tratat! Tratat! Bum!!!” di lukiskan pemuda-pemudi berlarian bertelanjang kaki memanggul
senapan dan bambu runcing, yang dengan ikhlasnya berjuang. Atau menyerahkan kambing kesayangannya demi perjuangan membebaskan Indonesia dari penjajahan.

Akhirnya gue menyadari betapa bahwa gue sudah tidak nasionalis lagi. Walaupun dahulu gue adalah orang yang nasionalis, kini rasa itu telah lenyap termakan oleh waktu.
Dan gue sangat berharap, gue tidak menjadi seorang yang nasionalis kembali. Najis!

???”

Woi! Woi! Jangan monyong dulu begitu dong… Meskipun tidak berjiwa nasionalis, gue orangnya baik loh! Gue orangnya gak tegaan membunuh sesekor nyamuk dengan pukulan mematikan, tetapi lebih suka dengan baygon. (he..he..?? garing euy!)

Okey..okey.. mari sini berkumpul, gue akan memberikan penjelasan. Seperti halnya Mush’ab bin Umair saat membawa misi dakwah dari Rasulullah. Dan dengan gagahnya gue akan berucap :

apabila kalian menganggap, bahwa apa yang akan saya utarakan ini baik untuk kesehatan pikiran, maka silahkan di terima. Dan bila, apa yang saya sampaikan ini buruk, maka kalian boleh ,meninggalkan saya.”

Setuju??

Ya..ya.. yang pertama-tama, kalian mungkin heran mengapa gw dan kawan-kawan tidak ingin hormat terhadap bendera…

Ehmm..Coba kalian pikirkan kemerdekaan yang di peroleh Indonesia ini, apakah karena selembar bendera merah putih itu? Tentu tidak kan? Maka Dari itu buat apa kita
menghormatinya begitu khusyuk? Sehingga kita terlalu mensakralkannya. Bahkan gue
ingat,suatu ketika pernah gue menjatuhkan benda itu sampai-sampai gue di hukum
push-up!. Atau sering kita lihat banyak atlit atau pejabat yang di lantik dengan mencium bendera merah putih, yang ketika menciumnya lebih meresapi ketimbang mencium Al-qur’an atau tangan kedua orangtua kita. Jadi apa bedanya sikap kita itu dengan dinamisme???!!!

tetapi, tidak menghormati bendera, sama saja tidak menghargai perjuangan para pejuang dahulu!!” seseorang mas-mas bertopi paskibra menyeletuk.

Okey..okey..
Namun, apakah dengan cara menghormati bendera itu kita bisa menghargai perjuangan para pendahulu kita dahulu? Tentu tidak bukan? kalau Cuma hormat terus-terusan sampe 3 hari3 malam juga gak bakal bisa bikin masalah diIndonesia selesai. Yang ada juga kita malahan tambah masalah karena musti ngurut tangan ke tukang pijit.

Cara kita menanggapi kemerdekaan ini, seharusnya ya dengan cara mensyukurinya. Karena sebenarnya yang membuat Negara ini merdeka adalah pertolongan dari Sang penguasa Alam semesta ini, Allah SWT. Coba di ingat, (dengan tanpa merendahkan perjuangan para pejuang dahulu) apakah perjuangan mereka dahulu berhasil dalam mengusir penjajah dari negri ini? Kalau sesuai sejarah yang pernah gue baca, yang mengusir belanda sang penjajah kita dahulu dari Indonesia adalah Jepang.

Kemudian Indonesia di tinggal kembali oleh jepang pulang kampung ke Jepang lagi, karena Amerika mengacak-acak negri matahari dengan bom atomnya. Lalu pada saat setelah itu lah di Indonesia terkondisi dalam keadaan ‘vacuum of power’. Kemudian tanpa tunggu lama-lama lagi para pemuda berhasil memproklamasikan Indonesia untuk merdeka.

Jadi sekali lagi semua ini karena rahmat dari Allah. Sehingga penjajah itu ngacir sendiri dari Negara ini..

Dan, tidak salah pula kalau gue tidak ingin mensakralkan benda atau bendera, atau apalah namanya, selain dari Sang Pencipta kita?

lalu, kenapa kamu nggak mau menjadi orang yang nasionalis!!??” sekarang cewek mancung berpita merah putih dirambutnya membentak gue.

ha..ha.. itu karena gue memandang ikatan nasionalisme adalah ikatan yang rusak tauk!!

Seorang syeikh Taqiyuddin an Nabhani, menulis dalam kitabnya ‘Nizhom al Islam” (peraturan hidup dalam islam) hal 34-35, bahwa ikatan nasionalisme itu;

Pertama, mutu ikatannya rendah,sehingga tidak mampu mengikat antara manusia yang satu dengan yang lainnya untuk menuju kebangkitan dan kemajuan.

Kalian tauk, gara-gara paham nasionalisme lah, kita jadi mengabaikan sodara-sodara kita yang seiman di Palestina, Irak, Cina, Ukbekistan, dan lain sebagainya. yang di permalukan, di bantai, dan diperkosa, oleh kafir-kafir yang menjajah negara mereka. Hanya karena kita dengan entengnnya beralasan, masalah negara lain bukan masalah negara kita.

Selain itu terbukti nasionalisme,tidak bisa membuat penganutnya menuju kebangkitan.
Dengan contoh, Indonesia yang sudah bebas dari penjajahan fisik, kini masih terjajah di bidang-bidang yang lain secara pemikiran. Seperti bidang pendidikan, militer, politik, ekonomi, sosial-budaya.

Kedua, ikatan nasionalisme bersifat temporal dan emosional.

Ketika piala Sudirman berlangsung kemarin, mungkin rasa nasionalisme seluruh rakyat Indonesia ini bangkit kembali. Ketika Indonesia bersitegang dengan Malaysia, maka memanaslah rasa nasionalisme di dada kita. Ketika RMS,GAM,Papua Merdeka, mencoba melepaskan diri dari negri inipun, membaralah rasa nasionalisme di dalam sanubari rakyat Indonesia.

Namun setelah Indonesia aman, tentram, tidak terguncang, maka rasa ikatan yang rusak itu menjadi pudar dan hilang. Karena emosi kita tidak mencuat kembali. Jadi rasa nasionalisme itu cuma hangat-hangat tai ayam..

Atau kita lihat kemarin, ketika Aceh di terjang tsunami, maka rakyat papua yang jauh dari Aceh ikut jua bersedih, ikut juga mengirimkan bantuan. Sedangkan Singapura yang jaraknya sangat dekat dengan Aceh, tidak terlalu pusing memikirkannya. Itu di sebabkan, seluruh pengikut paham nasionalisme, selalu berpresepsi; urusan negara lain bukan urusannya, manusia di negara lain bukan saudaranya. Padahal ujar Rasulullah, walaupun orang itu berkulit hitam, putih, kuning, kuning langsat, ras melayu, ras negro, ras Indian, itu tidak masalah. Yang penting asal dia islam, maka dia itu adalah saudara kita.

Gue jadi ingat, ketika di masa Mu’tasim Billah menjabat sebagai khalifah, dan ketika itu, ada sebuah kabar mengenai seorang muslimah yang di zhalimi. Di katakan bahwa mulimah tersebut di tarik kerudungnya oleh penduduk amuriyah dan di perkosa kehormatannya..

Mendengar pelecehan tersebut, Khalifah Mu’tasim Billah lalu mengirimkan surat yang mengancam akan mengirimkan pasukan yang kepalanya ada di Amuriyah, sedangkan ekornya ada di Baghdad. Ancaman itupun di buktikan!. Muslimah yang di zhalimi di bebaskan, dan Amuriyah pun di tundukan dalam keKhilafahan islam!.

Untuk menjaga kehormatan seorang muslimah saja khalifah mengomandoi penyerangan yang besar seperti itu. Sedangkan sekarang, apa yang bisa di lakukan oleh penguasa negri-negri muslim ketika jutaan rakyat berteriak terzhalimi?

Sekali lagi itu karena paham nasionalisme yang membuat umat muslim di seluruh dunia tidak bersatu kembali.

Paham nasionalisme tidak hanya merugikan umat islam, tetapi paham nasionalisme juga merugikan bagi umat manusia. Nasionalisme adalah paham chauvinistic terselubung, yang secara gamblang, di pertontonkan oleh negara fasis : jerman, jepang, Italia, pada perang dunia ke-II.

Interupsi! tapi, nasionalisme Indonesia adalah nasionalisme yang bermartabat kan ??”

bermartabat embahmu!!”

Dalam kemartabatan atau dalam martabak telor pun! Tidak ada negara bangsa yang mau pemerataan sumber daya alam. Dengan kemartabatannya, Negara miskin seperti Ethopia, Zimbawe, tetaplah miskin. Sedangkan Negara kaya sumber daya alam seperti Brunei tetap makmur sejahtera.

Dimana letak nasionalisme yang bermartabat, ketika paham tersebut membuat tidak meratanya pembagian distribusi kekayaan alam yang merata?. Padahal tidak ada seorang pun yang ingin hidup dan dapat memilih ingin di lahirkan di negara yang memiliki SDA miskin atau SDA kaya. Padahal kalau paham nasionalisme ini masih terus-terusan, maka negara miskin tidak akan bisa sekalipun makmur karena mereka tidak kebagian SDA yang sebenarnya di berikan Allah untuk seluruh menusia. Bagi gue nasionalisme bukan ide yang fair!

Yep!
Semoga dari penjelasan yang panjang dan rumit ini, kalian yang membaca sudah mendapatkan pencerahan seperti halnya Saad bin Muadz ketika mendapatkan pencerahan oleh Mus’ab bin Umair di kebun kurma.

Terakhir silahkan memilih, setiap pilihan tentu akan ada pertanggung jawabannya nanti. Kalau saya tetap pada konsekuensi saya. Dan demi Allah saya siap mempertahankannya!. Amin. (penghianatyangdiburu & thanks to DivanSemesta)

Ya Allah, saksikanlah hambamu yang hina ini telah menyampaikannya”

[16/08/09 mksr]

Categories: artikel renyah