Arsip

Archive for the ‘ILKOMAGZ FMIPA UNLAM’ Category

Penjinak Bom Waktu dan Bom Ranjau

29 Juni 2010 1 komentar

Penjinak Bom Waktu dan Bom Ranjau

 

Ada sebuah kisah menarik mengenai dua orang veteran perang. Keduanya adalah mantan tentara spesial  yang terlatih kemampuan khusus. Yang satu mantan penjinak bom waktu, dan yang seseorang lagi mantan penjinak bom ranjau. Di kehidupan dipasca perang, keduanya memiliki kebiasaan yang berbeda dari orang tua kebanyakan lainnya. Mereka terlihat masih bersemangat beraktivitas, masih rajin berkeliling membantu sekitarnya, seolah hidup mereka masih terasa muda, penuh energi dan warna.

Sering.. diwaktu subuh buta, pak Ali sang mantan penjinak bom waktu sudah bangun lebih dahulu dibandingkan anak muda lainnya. Ia berangkat ke mushola kompleknya dan dengan merdunya mengumandangkan azan penanda waktu sholat telah tiba. Ia juga dikenal sebagai orang yang tak pernah lelah beraktivitas. Pagi setelah subuh, ia selalu membersihkan halaman rumah, bahkan membersihkan lingkungan sekitar kompleknya. Sekitar jam Sembilan pagi ,setelah membaca buku-buku agama, ia mulai membuat tulisan-tulisan islami dari ilmu-ilmu yang ia dapat. Kemudian setelah berzuhur, seperti biasa ia mengisi ceramah di masjid. Dan setelah ashar, ia kembali berkeliling dikompleknya dengan membagikan fotocopy-an dari tulisan yang ia buat pagi hari.

Tak berhenti sampai disitu, setelah magrib, pak Ali dengan ikhlas mengajar mengaji anak-anak di mushola kompleknya. Dan sering terbangun melakukan shalat tahajud di tengah malam. Dengan seabrek aktivitasnya itu,ia hanya beristirahat sebentar sekali..

Hal tersebut membuat takjub warga sekeliling yang menyaksikannya begitu luar biasa pak Ali memanfaatkan waktu, padahal usianya kini sudah sedemikian renta..

Begitu pula keseharian Pak Husin, seorang mantan penjinak bom ranjau yang sering dibicarakan warga karena kedermawanannya dan kebaikan perilakunya.

Semua orang tahu, dimana pak Husin berada pasti akan ada sebuah contoh teladan yang akan disaksikan. Dimana saat berjalan di tengah keramaian, pak Husin yang sudah ‘kepala enam’ itu sering memberhentikan perjalananya demi menolong anak-anak SD yang ingin menyebrang jalan. Kadang ia suka mensedekahkan duitnya kepada anak-anak loper Koran atau pengemis  yang kurus kering. Kadang ia suka menyapu taman sendirian padahal itu bukan tugasnya, dan paling sering pak Husin kalau berjalan kaki selalu membawa kantongan besar untuk menampung sampah yang ia pungut sepanjang perjalanannya..

Anak cucunya yang sering ikut berkeliling bersama pak Husin sampai malu karena mereka kadang tidak memiliki kepedulian seperti yang dilakukan pak Husin. Mereka bingung apa gerangan yang membuat kakeknya tersebut tak pernah lelah dan bosan bersikap ekstra baik seperti itu.

Rahasia tersebut terkuak setelah pak Ali dan pak Husin bercerita tentang masa lalunya.

Pak Ali bercerita tentang saat-saat mengharukan yang pernah ia alami. Pak ali pernah menyaksikan rekannya sesama penjinak bom tewas akibat ledakan bom yang belum sempat dijinakan. Saat itu pak Ali bertugas ditempat yang jauh dari lokasi bom, namun ia berkomunikasi dengan temannya tersebut, membantu untuk memikirkan cara agar bom waktu dapat dijinakkan.

Karena waktu yang begitu singkat teman pak Ali akhirnya tewas diledakan tersebut, sebelum berhasil memotong kebel penghenti waktu -yang padahal sudah berhasil diketahui dengan pengecekkan, namun sayang terlambat hanya satu detik..

Kemudian sejak saat itulah pak Ali sangat menyadari betapa berartinya ‘satu detik’ bagi dirinya. Betapa ternyata dalam tempo satu detik semuanya bisa terjadi. Hanya dalam satu detik terlambat, sebuah kesempatan bisa kita sia-siakan, bahkan hanya dengan satu detik yang tak bisa kembali lagi, nyawa seseorang bisa melayang.

Dan itulah yang selalu mendorong pak Ali agar memanfaatkan waktu hidupnya sebaik mungkin. Memanfaatkan detik-detik yang dilaluinya dengan usaha semaksimal mungkin beramal dan berkarya. Sehingga kisah duka dan kekecewaannya yang dulu pernah dirasakan akibat ‘terlambat satu detik’ tak lagi ia temukan disisa-sisa umurnya..

Begitu pula kisah dibalik sikap pak Husin yang begitu tulus membantu sesama..

Pak husin memiliki kisah tak jauh berbeda dari kisah pak Ali. Sebuah tragedi duka pernah terukir dalam riwayat tugasnya dimedan perang lampau,-menjinakkan bom-bom yang ditanam musuh dijalur jalan tank-tank tentara. Ia menyaksikan adik laki-lakinya yang sedang bertugas  tewas dengan menggenaskan akibat terinjak bom yang tidak terlihat tertutup tanah. Tubuh adiknya berhamburan tercerai berai, hingga pak Husinpun terkena sedikit serpihan ledakan saat itu.

Telak, duka dan pilu berkecamuk dalam perasaan pak Husin sepanjang hayatnya saat mengingat gambaran naas tersebut. Dan itulah yang membuahkan sikap pak Husin untuk terus terjaga pada setiap langkah kakinya dalam bingkai perbuatan baik. Kenangan pilu itulah yang mengkristalkan pada pikiran pak Husin bahwa setiap langkah kaki kita adalah lebih dari sebuah langkah biasa. Namun langkah, juga tindakan dari pilihan yang kita ambil untuk ‘melakukan langkah atau tidak’.

Makanya, pelajaran dari ‘salah langkah dimedan ranjau’ merupakan pelajaran berharga bagi hidup pak Husin. Dan pelajaran berharga itulah yang terus memacu pak Husin untuk memanfaatkan langkah kakinya dengan penuh perbuatan amal terbaik yang bisa ia persembahkan. Dan hal yang wajar kalau pak Husin di setiap perjalannya selalu membawa plastik buat mengumpukan sampah, selalu membawa duit untuk disedekahkan, selalu rela berbelok untuk membantu sesama. Karena -sekali lagi-, langkah kaki bagi pak Husin adalah kesempatan untuk sekaligus berkarya (beramal).

Yah, pemanfaatan detik  ala pak Ali. Juga pemanfaatan langkah ala pak Husin, patut kita teladani. Apalagi disaat usia kita yang terhitung masih muda sekarang ini.. semoga 86.400 detik yang diberikan Allah setiap hari, dan kesehatan betis untuk terus melangkah dapat kita syukuri dengan arti yang sesungguhnya..  amin.

(akb)

Cat: tulisan ini terinspirasi gara-gara tdk sengaja keinjak siput dibelakang rumah.. Hayoo! apa coba hubungannya? yang tau dapat hadiah!

Categories: ILKOMAGZ FMIPA UNLAM

Creativity Block

tulisan ini sebenarnya buat selebaran kampus ILKOMAGZ.

jadi harap maklum kalau ada HIMAKOM-HIMAKOMannya yak..


Creativity Block


“Beda antara orang kreatif dan yang tidak hanyalah pada kemampuan orang kreatif dalam mengatasi aral (pengahalang) kemampuan kreatifitas”(Madhukar Shukla)

HuhuY! Yang pasti saya setuju sekali dengan definisi kreatif ala M’bah Madhukar tersebut. Yang berarti semua orang sebenarnya berpotensi dan punya bakat untuk kreatif. Namun ada penghalang tertentu yang menyebabkan adanya kecenderungan orang yang satu bisa lebih kreatif dari pada yang lain. Dan mereka yang kita anggap kreatif itu sebenarnya sama aja dengan kita. Hanya saja, mereka mampu dan berhasil mengatasi penghalang-penghalang kretifitas tersebut agar potensi kreatifnya tidak terpendam atau terkekang selamanya..

Kamu tau siapa Mark  Zuckerberg?? Mark Zuckerberg seorang mahasiswa yang luar biasa, nakal tetapi punya banyak ide kreatif. Ia sempat dihukum petinggi kampus lantaran membuat situs yang menilai penampilan fisik mahasiswa Harvard. Tetapi itu tidak membuat kreativitas Mark surut, apalagi mati. Tiga bulan setelah hukuman, dia malah sukses menciptakan situs yang kini sangat mendunia, yaitu Facebook!.  Luar biasa bukan?

Lalu, bagaimana agar kita (anak ilkom) dapat mengembangkan atau -lebih mencurahkan imajinasi kretif kita agar dapat terealisasi nyata seperti si Mark atau orang-orang kreatif lainnya?

Tentu saja, langkah awalnya adalah dengan mengenali apa saja aral kretifitas itu. Ringkasnya, aral kreatifitas (creativity block) adalah kondisi internal maupun eksternal (lingkungan)  yang menghalangi proses kreatif. Aral internal berasal dari dalam diri individu sendiri dan bisa berbentuk pola pikir, paradigma, keyakinan, ketakutan, motivasi, dan kebiasaan.

Sedangkan aral eksternal lebih pada kondisi lingkungan. Ada kalanya seseorang mempunyai bakat-bakat kreatif dan tertantang untuk mengembangkannya. Tapi sayang lingkungan sekitar bukannya mendukung dan mewadahi, tapi malah menghalanginya.

Nah, untuk lebih jelasnya mari kita kupas satu persatu secara singkat aral-aral kreatifitas tersebut.

Aral Pola Pikir

Dalam konteks kreativitas, dikenal dua pola berpikir. Pertama, pola pikir produktif yang artinya jika dihadapkanpada sesuatu masalah,  maka seseorang akan berusaha menemukan cara berfikir berbeda yang lebih baik, cara pandang baru (sekalipun tidak orisinil), sikap dan perilaku berbeda, merespon dengan cara-cara non konvensional, bahkan unik. Pola semacam itulah yang membuka jalan dan selalu merangsang kreatifitas seseorang.

Kedua, pola pikir reproduktif yang artinya apabila dihadapkan pada masalah, seseorang itu akan cenderung merespon dengan cara yang sama, mengulang pola pikir atau cara penyelesaian lama yang dianggap berhasil (padahal hakikatnya belum tentu). Dan itulah sebab mengapa pola pikir reproduktif menjadi salah satu penyebab utama kekakuan berfikir, dan dengan demikian menjadi aral kreatifitas. Orang-orang yang seperti inilah yang biasanya terlalu menganggap perubahan adalah hal yang tabu.

Aral Paradigma

Kurang lebih dengan aral pola pikir adalah aral paradigma. Paradigma adalah cara mempresepsi, memahami, dan menafsirkan dunia sekelilingnya. Paradigma seseorang sangat mempengaruhi kreatifitas. Seseorang dengan paradigma antikonflik umumnya kurang menyukai perubahan, atau bahkan membenci perubahan. Mereka tidak memandang perubahan sebagai peluang perbaikan. Padahal kreatifitas merupakan aktifitas yang dapat lahir atau terstimulasi melalui benturan, persinggungan, percampuran, dan penyatuan berbagai unsur  yang berbeda atau bahkan saling bertentangan selama hal tersebut masih dalam koridor yang dapat dibenarkan.

Aral Keyakinan

Keyakinan bisa menjadi pendorong atau justru menjadi faktor penghambat kreatifitas. Kreatifitas sering memunculkan output baru yang berlawanan atau mengalahkan hal lampau, mengalahkan senioritas, mengalahkan pengalaman, atau mengalahkan hirarki. Dalam hal keyakinan yang menabukan inisiatif, mengharuskan penghormatan berlebih pada senioritas, hirarki, atau pengalaman misalanya. Maka manifestasi kreatifitas umumnya relatif terhambat. Maka beruntunglah kita yang masuk dalam kestrukturan HIMAKOM periode ini, karena HIMAKOM justru mengarahkan semua anggotanya menjadi mahasiswa-mahasiswa yang kreatif tanpa batas-batas seniorotas-hirarki tadi.

Aral Ketakutan

Mungkin dari berbagai aral kreatifitas yang paling mudah dikenali adalah rasa takut. Aral ini bisa berupa takut diabaikan, takut dicemooh, takut dievaluasi, takut dihakimi, takut dianggap bodoh, takut pada ketidak sempurnaan, takut mencoba, takut ambil resiko, takut ide tidak berjalan seperti yang diharapkan, takut gagal, dll.

Salah satu sebab mengapa banyak sekali mahasiswa yang enggan melakukan aktivitas perubahan meski mereka menyaksikan banyak sekali kebobrokan didepan mereka adalah karena ketakutan.

Aral Motivasional

Tanpa motivasi, orang cenderung tidak terdorong dan tidak tergerak untuk meraih sesuatu yang diinginkannya. Padahal kreatifitas sering menuntut satu rangkaian persiapan pemikiran, pendefinisian persoalan, dan pemecahannya. Semuannya membutuhkan dalam derajat tertentu usaha dan kerja keras. Maka, bila motivasi rendah orang cenderung kurang menyukai kerja keras, kurang tekun, dan enggan memanfaatkan kemampuan kreatifnya untuk memecahkan tantangan.

Aral Kebiasaan

Orang-orang kreatif  umumnya memiliki kebiasaan-kebiasaan yang merangsang kreatifitas. Sementara orang-orang yang kurang kreatif juga memiliki kebiasaan-kebiasaan tertentu, yang sayangnya malah meredam kreatifitas. Misalnya : suka menghindari masalah (bukan mencari solusi), malas berfikir, menghindari tantangan, menghindari tanggung jawab, menghakimi ide-ide baru, mudah berpuas diri, dll. Bila dihadapkan pada kebiasaan tersebut maka tantangan kreatifitas tak ada artinya.

Aral Sosial

Kreatifitas kadang selalu dipengaruhi oleh aspek  sosial. Situasi sosial tertentu yang cukup apresiasif dan menghargai kreatifitas dengan layak sehingga bisa lebih memotivasi individu untuk produktif dan kreatif. Sementara situasi sosial lainnya relatif  kurang apresiasif dan bahkan mengekang. Maka sering dibeberapa tempat, kreatifitas kurang begitu dihargai. Misalnya masyarakat cenderung lebih menginginkan anaknya untuk bekerja di sebuah perusahaan tertentu daripada merintis sebuah usaha baru. Hal ini tentu menjadi hambatan tersendiri bagi jiwa-jiwa muda yang kreatif.

Aral Organisasi

Banyak sekarang ini organisasi bisnis menempatkan kreatifitas sebagai motor sekaligus bahan bakar inovasi. Hal ini seharusnya juga ada pada HIMAKOM wadah semua anak ilkom untuk berkarya. Sekalipun peran kreatifitas diakui besar, namun banyak organisasi gagal menyediakan lingkungan atau iklim yang kondusif bagi kreatifitas itu. Organisasi yang konservatif biasanya kurang merangsang kreatifitas. Seperti batasan-batasan hirarki, aturan yang tidak fleksibel, ketiadaan wadah bagi ekspresi kreatif, buruknya komunikasi. Semoga saja HIMAKOM tidak mencelakakan dirinya menjadi oraganisasi seperti itu..

Nah, dalam upaya menuju kemajuan HIMAKOM, maka kita harus menghalau semua penghalang-penghalang kreatifitas tersebut agar potensi kreatif yang selama ini terpendam dalam diri dan organisasi kita dapat berkembang dan menyegerakan terjadinya kemajuan yang kita cita-citakan.

Dan ingat!, berkreatifitas bukan berarti melanggar aturan Sang Super Creator, yaitu Alloh! Pikirkan saja, kreatif adalah melakukan sesuatu dengan lebih baik. Maka aturan Alloh yang sudah sangat benar pasti baik tersebut tidak mungkin lagi dilanggar dengan dalih membuat lebih baik lagi bukan? Maka jelas melanggar aturan Alloh bukan lagi kreatif, tapi bodoh! Setuju? Ayo berkarya!

(akb, dari berbagai sumber)

Categories: ILKOMAGZ FMIPA UNLAM