Premanisme, Penciptaannya dan Penyelesaiannya?
Pada bulan November lalu, para aparat kepolisian sedang menggencarkan penangkapan para preman yang selama ini meresahkan warga sekitar. Sejak 2 November, dimana operasi tersebut dimulai sudah lebih dari lima ribu orang preman yang terjaring(RadarBanjarmasin,18 November2008). Ada yang dibebaskan, ada pula yang dilepaskan, dikarenakan polisi tidak berhasil mendapatkan saksi maupun bukti otentik yang memperkuat bukti kepremanannya.
Melihat fenomena banyaknya preman yang terjaring tersebut sebenarnya memperlihatkan kepada dunia bahwa ketidakamanannya daerah-daerah diIndonesia. Di setiap sudut pemukiman warga hampir selalu ada preman yang ‘berkuasa’. Belum lagi ditempat-tempat publik yang terkenal sebagai ‘sarang’ preman, seperti terminal, pasar tradisional, gang-gang kecil,dan lain-lain. Jadi, apakah preman sudah menjadi salah satu komponen publik, yang sebuah wilayah akan dikatakan tidak lengkap apabila tidak ada kehadiran sosok preman?
Dikaji mendalam, kata ‘preman’ awalnya berasal dari bahasa Belanda penjajah dahulu, yaitu ‘vrije man’ atau bahasa inggrisnya ‘free man’ yang artinya ‘orang yang bebas’. Orang yang disebut oleh para penjajah Belanda dengan vrije man ini dikarenakan mereka orang yang membebaskan diri dari aturan belanda. Vrije man ini biasanya jagoan kampung atau ahli beladiri yang tidak mau ditindas oleh Belanda penjajah. Tindakannya pun mirip seperti kisah RobinHood pada kerajaan kuno di Inggris. Mereka bertindak kasar, dan suka mencuri barang-barang Belanda penjajah untuk kemudian diberikan kepada rakyat kecil yang tertindas. Bagi rakyat Indonesia dahulu mungkin para vrije man ini bagaikan pahlawan, namun bagi penjajah adalah pemberontak yang harus dilawan.
Itulah sosok nenek moyangnya preman, para vrije man. Yang suka merampas harta para penjajah untuk diberikan kepada rakyat yang kekurangan. Namun sekarang, yang dilakukan preman malah mengambil dari rakyat kecil, untuk dinikmati sendiri mabuk-mabukan..
Premanisme di zaman sekarang lebih erat kaitannya dengan masalah kemiskinan. Preman juga manusia, dan perlu memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari seperti pangan, sandang, dan papan. Namun sayangnya mereka kebanyakan tidak mengenyam pendidikan, akibat mahalnya biaya yang harus dikeluarkan. Bagaimana mau mendapatkan ilmu, moral, dan etika yang baik disekolah kalau untuk menanggung biaya sehari-hari saja penuh kekurangan?.
Alih-alih kemudian mereka dapat bekerja di perusahaan apalagi dikantoran karena modal pendidikan tidak sedikitpun digenggaman. Akhirnya demi mendapatkan nafkah, modal yang ada hanya keberanian dan kekuatan. Maka jadilah yang bisa mereka lakukan hanya menodong, memeras, mencopet, merampok, atau demi memenuhi nafsu bejatnya mereka bahkan memperkosa dan mabuk-mabukan.
Faktor lingkungan dan keluarga dapat pula ‘menciptakan’ seseorang menjadi preman. Kebanyakan preman dilahirkan dalam keluarga yang keras. Keluarga yang memberikannya pengalaman masa kecil sebagai seorang “loosers”. Keluarga yang serta-merta menindasnya. Sedemikian rupa sehingga ia menjadi pribadi yang selalu merasa tidak aman. Dan untuk memenuhi rasa aman itu, ia bertindak yang tanpa disadari mengulang semua perlakuan negatif yang pernah ia terima kepada orang lain. Jadilah sikap seorang preman cenderung bengis, kasar, dan sewenang-wenang.
Sebagai ‘bumbu’ tambahan proses penciptaan tokoh preman ini, ternyata media dan acara-acara hiburan menjadi suplement tambahan. Media entah secara sadar atau tidak (atau pura-pura tidak sadar) banyak mengajarkan secara tidak langsung hal-hal yang negatif. Entah sudah beberapa banyak film-film bertemakan amoral dan kekerasan yang ditayangkan ditelevisi. Yang secara tidak langsung film-film tersebut mengajarkan bahwa segala urusan harus dipecahkan dengan jalan kekerasan, dengan jalan harus ada yang kalah, harus ada yang mati, seolah menggambarkan yang paling hebat adalah yang beladirinya paling mantap.
Wajar kemudian generasi muda terbentuk dengan gaya premanisme. Hidup dengan gaya premanisme, dan bersaing dengan gaya premanisme. Di lingkungan, yang paling keren bagi mereka adalah yang paling ditakuti dan yang paling kuat. Geng-geng nakal remaja banyak di’deklarasikan’ dan bersaing untuk mendapat eksistensi (pengakuan) sebagai yang paling sangar. Kalau sudah begini kedepannya apakah bangsa ini akan menjadi bangsa preman?
Sebenarnya kesalahan selama ini karena lingkungan masyarakat yang jauh dari agama. Belum lagi ditambah dengan orang-orang sekitar yang apatis terhadap keadaan dan sibuk secara individualis. Keadaan seperti ini khas cara hidup dalam sistem kapitalis, dimana semua orang bersikap individual dan saling sikut dalam mengejar materi (materialis-hedonis). Dan orang-orang miskin disekitarnya tidak terbantu akibat apatisme masyarakat ini.
Premanisme sebenarnya hanya efek domino dari semua ketidaksesuaian yang saling berkaitan tersebut. Dan untuk memperbaikinya diperlukan sebuah peran negara sebagai institusi yang bertanggung jawab penuh akan hal ini. Aparatpun seharusnya tidak cukup hanya memperlakukan preman ini dengan tangkap-data-adili-lepaskan-ulangi lagi. Karena inti permasalahan premanisme ini sangat luas, yaitu ketidaktercapaiannya kesejahteraan rakyat kecil dan pemikiran mereka yang terinfeksi dengan cara hidup brutal.
Maka penting, pemikiran atau pola pikir brutal khas preman harus di bersihkan, karena pola pikir tentu akan menghasilkan pola sikap, dan kemudian pola sikap akan mewujudkan pola tindakan. Dengan menggantinya dengan pola pikir agamis sehingga tindakan seseorang akan sesuai dengan aturan-aturan agama yang menghasilkan nilai-nilai kebenaran. Dalam hal ini pemerintah harus menggencarkan sosialisasi dan penyuluhan.
Negara juga harus berperan menerapkan hukum dengan sanksi yang tegas dan lengkap, membatasi penayangan tayangan-tayangan perusak moral generasi, menggratiskan pendidikan dan kesehatan secara merata keseluruh rakyat, menciptakan kejeahteraan, mengadakan sosialisasi, dan merubah sistem kenegaraan kesistem yang teruji dan lebih baik. Hingga premanisme akan musnah dan kehidupan bermasyarakat menjadi aman dan tentram.
Sebenarnya berbagai problem klise seperti premanisme ini tak lebih hanya sebagai masalah cabang dinegri ini. Akan lebih tepat seandainya masalah pokok atau akar masalah di negri ini yang diselesaikan terlebih utama. Berbagai masalah cabang selama ini hanya buah dari sistem yang ada. Maka untuk itu sistem sekularis-liberalis-kapitalis sekarang ini, harus digantikan oleh sistem syariat Islam yang terbukti selama tiga belas abad hanya mencatatkan jumlah krimal yang terjadi hanya berjumlah ratusan. Wallahu’alam bishawab.
Komentar Terakhir