<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Etalase Esai</title>
	<atom:link href="http://akbarlaksana.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://akbarlaksana.wordpress.com</link>
	<description>tulisan renyah bergizi tinggi..</description>
	<lastBuildDate>Sun, 01 Jan 2012 09:14:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='akbarlaksana.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Etalase Esai</title>
		<link>http://akbarlaksana.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://akbarlaksana.wordpress.com/osd.xml" title="Etalase Esai" />
	<atom:link rel='hub' href='http://akbarlaksana.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Everyday is Motherday</title>
		<link>http://akbarlaksana.wordpress.com/2011/12/22/everyday-is-motherday/</link>
		<comments>http://akbarlaksana.wordpress.com/2011/12/22/everyday-is-motherday/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Dec 2011 09:02:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>AkbarLaksana</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Esai Gue]]></category>
		<category><![CDATA[POPCORN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akbarlaksana.wordpress.com/?p=274</guid>
		<description><![CDATA[Everyday is Motherday &#160; Entah kenapa beberapa hari yang lalu gue cekikikan sendiri saat tiba-tiba ingat kebandelan zaman SMP dulu. Saat itu gue membuat tulisan tempel yang isinya begini, “Sebod*h-bod*hnya orang terbod*h adalah yang mau sempat-sempatnya baca tulisan ini apalagi pake ketawa-ketawa sendiri!” Eitss.. tulisan itu bukanlah untuk membuat dikau marah baca artikel ini. Tapi &#8230; <a href="http://akbarlaksana.wordpress.com/2011/12/22/everyday-is-motherday/">Continue reading <span class="meta-nav">&#187;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akbarlaksana.wordpress.com&amp;blog=9104912&amp;post=274&amp;subd=akbarlaksana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1 style="text-align:center;"><strong>Everyday is Motherday</strong></h1>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://akbarlaksana.files.wordpress.com/2011/12/ibu-dan-si-jihad-laksana.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-275" title="ibu dan si jihad laksana" src="http://akbarlaksana.files.wordpress.com/2011/12/ibu-dan-si-jihad-laksana.jpg?w=300&#038;h=217" alt="" width="300" height="217" /></a></p>
<p>Entah kenapa beberapa hari yang lalu gue cekikikan sendiri saat tiba-tiba ingat kebandelan zaman SMP dulu. Saat itu gue membuat tulisan tempel yang isinya begini, <strong><em>“Sebod*h-bod*hnya orang terbod*h adalah yang mau sempat-sempatnya baca tulisan ini apalagi pake ketawa-ketawa sendiri!”</em></strong></p>
<p><em>Eitss..</em> tulisan itu bukanlah untuk membuat dikau marah baca artikel ini. Tapi itulah tulisan yang gue bikin saat SMP dulu, dan dengan sengaja menempelkannya di papan tulis belakang kelas –yang niatnya cuman iseng bikin heboh kelas. Ketika ada yang baca, dia pasti awalnya mau tau, terus nyengir, kemudian sewot.. Hehehe entah kenapa gue bisa bahagia saat orang ketipu baca tulisan itu. Standar bahagia yang parah saat remaja. Ckckc..</p>
<p>Namun, apa yang terjadi jamaah sekalian?!!<span id="more-274"></span></p>
<p>Ya! Tak lama setelah tulisan itu gue tempelkan, dan memakan korban puluhan ribu orang (lebay..). Tibalah dimana ruangan kelas dimasuki oleh ibu guru pengajar bahasa Indonesia. Ibu guru yang masih gue ingat rupa wajahnya, namun (durhakanya) gue terlupa nama beliau, itu kemudian jalan-jalan keliling kelas sambil ngajar.</p>
<p>Tibalah sampai manuver beliau dibagian belakang kelas. Goncangan jiwa gue semakin berdisko. Degupan jantung mengalir deras, denyut nadi berdegup keras. Tulisan di papan tulis belum gue cabut! Bahaya!.</p>
<p>Dan benar sodari sodari! Benar!  Beliau –<em>yang semoga atas kesabaran dan jasanya mendidik muridnya yang bengal ini dilimpahkan sorga bintang tujuh kepadanya</em>- membaca tulisan gue, dan diam terpaku beberapa saat menatap papan tulis di belakang kelas itu.</p>
<p>Kemudian dengan menahan marah dipucat wajahnya, ibu guru berkata <em>“Siapa yang nulis tulisan ini..?”</em>. Gue gak bisa apapapapapa lagi, kawan-kawan dikelas tertawa dan memandang kearah kegantengan gue. Gue harus pasrah menerima kegantengan ini, dan mengakuinya kepada ibu guru.. <em>“Ulun bu..</em> (translate : <em>“Saya bu”</em>)”.</p>
<p>Kemudian ibu guru bahasa Indonesia itupun berbicara dalam bahasa Indonesia, (yang rasanya begini), <em>“Orang itu dilihat dari perkataannya dan tulisannya, dia akan menunjukan jati dirinya dari itu..”.</em> Kemudian ia maju kedepan kelas,  melanjutkan pengajaran, dan..Ya gitu aja.</p>
<p>Beliau gak ngelempar gue pake pot bunga. Gak nyuruh gue ngepel lapangan basket. Gak nyuruh gue push up sejuta kali. Walau gue tau tulisan itu pasti menyabik-nyabik harga diri siapapun yang membacanya. Malah gue yang malu, dan kemudian mencabut tulisan itu, dan (rasanya) gak mengulangi itu lagi sampai saat ini.</p>
<p>Kelam.</p>
<p>***</p>
<p>Tiba-tiba seorang ustadz cilik siswa SMP pemenang lomba da’i cilik yang diadakan di kampungnya naik keatas podium menyampaikan tausiahnya ;</p>
<p>“Hadirin rahimakumullah.. Setiap manusia pasti memiliki potensi hebat dan kreatif, tinggal bagaimana dia menyuguhkannya dalam bentuk seperti apa. Seperti cerita anak berandalan diatas yang tidak patut dicontoh itu, menunjukan kepada kita semua bahwa potensi kreatif, ide kreatif dan kecerdasan nya membuat untaian kata yang anugerahkan dari Alloh kepada dia, malah digunakan dalam aktivitas yang negatif dan sia-sia..</p>
<p>Yah.. banyak sekali sebenarnya kasus-kasus lainnya yang sering kita dengar selama ini. Para maling laptop di kampus kakak saya yang menggunakan modus sholat di mesjid yang begitu tak terkira, kasus pembobol ATM yang dengan inteleknya mengandalkan kemajuan teknologi, teknik penipuan menggunakan hipnotis, sampai cybercrime yang dilakukan cracker (Black Hacker) di dunia internet.. MasyaAlloh.. sungguh sangat banyak sekali..!</p>
<p>Ada persamaan diantara kasus itu semua. Yaitu potensi, kemampuan, kreatifitas berusaha yang seharusnya bisa digunakan untuk menunjang berbuat kebaikan malah di salah gunakan untuk bermaksiat, melakukan kejahatan..</p>
<p>Mengapa? Oh mengapa tidak malah digunakan untuk melipat gandakan pahala, atau melancarkan datangnya rezeki secara halal?!</p>
<p>Namun pertanyaan lainnya, mengapa? Oh mengapa si Akbar ini malah bikin tulisan mengenai guru di momen hari ibu..? Bukankah hari ini tanggal 22 desember merupakan hari ibu?</p>
<p><em>“Kenapa dek ustadz..?”</em> seorang penonton nyeletuk.</p>
<p>Mau tau jawabanya? Mau tau? Mau tau? Mau tau?</p>
<p>Kita lanjutkan di paragraf bawah berikut ini..”</p>
<p>***</p>
<p>Episode lainnya gue ingat disaat momen masih SMP kelas tiga beberapa juta detik sebelum UAN diadakan, dimana gemuruh jantung siswa-siswa kelas tiga saat itu seperti degup jantung syahrini saat menyambut David Beckham yang tiba di Indonesia.</p>
<p>Disaat mata pelajaran Agama Islam, Pak Ardi (Alhamdulillah ingat namanya), seorang guru yang gue kagumi karena kebijaksanaan dan ketegasannya menyampaikan sesuatu di kelas. Beliau menyampaikan kalau ingin dimudahkan melalui permasalahan (UAN) salah satu caranya ialah meminta ridha orangtua kita. Termasuk guru kita, dan doakan mereka, juga minta maaflah kepada mereka.</p>
<p>Saat itu sekali lagi gue merasa ditonjok tepat di dada, menohok. Selama itu kerjaan gue dan kawan-kawan adalah suka nyambatin guru-guru, suka tidak sopan, dan suka ngumpat cekikikan bikin cerita-cerita buruk guru-guru di sekolah. Saat itulah dengan waktu yang tersisa gue rubah tingkah laku terhadap para guru, gak lagi ngumpat, meminta maaf dan ridha kepada satu-satu guru, dan juga gak lupa  mendoakan disetiap kesempatan. Alhamdulillah saat UAN, diberikan keringanan sama Allah dan hasil yang memuaskan.</p>
<p>Sesuatu banged..</p>
<p>Kenapa ditulisan ini gue jadi ingat ibu-bapak guru saat SMP dulu, gue juga gak tau. Tulisan ini mengalir begitu saja. Paling tidak gue cuman ingin mengingatkan tidak harus di hari guru lah kita mengenang jasa-jasa guru kita. Dan juga, tidak harus di hari ini saja (hari ibu) kita mengenang jasa ibu kita. Karena seharusnya itu dilakukan setiap hari, setiap saat kita mengingat mengenang dan berusaha menyenangkan guru dan ibu kita. Sebagaimana mereka memberikan pengajaran setiap harinya tanpa lelah dan tanpa benci (walau kadang kita berikan perlakukan yang menyakiti hati mereka) dan tanpa menagih balasan, ikhlas untuk kita.</p>
<p>Sangat kurang ajar kita, kalau memfokuskan dengan cukup satu hari saja memberikan waktu untuk momen kasih sayang kepada ibu, sedangkan sang ibu menyayangi anaknya sepanjang waktu sepanjang detik, setiap mikro detik..</p>
<p>Sangat durhakanya kita, saat Rasulullah saja mengatakan bahwa surga berada ditelapak kaki ibu, namun kita masih suka melawan berbagai perintahnya, nasihatnya -yang sebenarnya untuk kebaikan kita..</p>
<p>Sangat tidak pantasnya kita, melawan dan menyanggah ibu padahal berabad-abad yang lalu Yang Mulia Muhammad saw. telah memperingatkan kalau mengatakan “Ah..!” saja sudah merupakan dosa terhadap ibu kita..</p>
<p>Sangat memalukannya kita, kalau hanya menjadikan satu hari dalam satu tahun sebagai hari ibu sedangkan, saat ditanyakan siapakah sosok yang harus dihormati didunia ini, Rasulullah sampai mengatakan berkali kali untuk menjawabnya : ibundamu, ibundamu, ibundamu..</p>
<p>Maka.., luapkanlah haru pada ibunda. Sampaikanlah terimakasih atas hari-harinya yang berat untuk membesarkan dan merawat kita, berikanlah persembahan terbaik -untuk paling tidak menyenangkan hatinya, karena kita yakin takkan mampu sampai kapanpun membalaskan keseluruhan jasanya pada kita..</p>
<p>Dan jangan pernah tertinggal dalam kesempatan do’a untuk menyembut nama ibunda, memohon kepada Sang Kuasa memberikan segala kebaikan kepada ia..</p>
<p>Sebagaimana doa yang diajarkan oleh ibu sewaktu kecil, gue akan selalu menyertakan doa yang pernah diajarkan beliau tersebut,</p>
<p>“<em>Allaahummaghfir lii wa liwaalidayya warhamhumma kamaa rabbayaanii shaghiiraa..” </em>(Ya Allah ampunilah dosa aku dan kedua orangtua ku, kasihilah mereka berdua, sebagaimana mereka mengasihiku sewaktu kecil..)</p>
<p>Amin.</p>
<p><strong><em>(15.46 wita, Selesai aat adzan ashar di hari ibu 22-12-2011)</em></strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akbarlaksana.wordpress.com/274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akbarlaksana.wordpress.com/274/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akbarlaksana.wordpress.com/274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akbarlaksana.wordpress.com/274/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/akbarlaksana.wordpress.com/274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/akbarlaksana.wordpress.com/274/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/akbarlaksana.wordpress.com/274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/akbarlaksana.wordpress.com/274/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akbarlaksana.wordpress.com/274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akbarlaksana.wordpress.com/274/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akbarlaksana.wordpress.com/274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akbarlaksana.wordpress.com/274/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akbarlaksana.wordpress.com/274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akbarlaksana.wordpress.com/274/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akbarlaksana.wordpress.com&amp;blog=9104912&amp;post=274&amp;subd=akbarlaksana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akbarlaksana.wordpress.com/2011/12/22/everyday-is-motherday/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:thumbnail url="http://akbarlaksana.files.wordpress.com/2011/12/ibu-dan-si-jihad-laksana.jpg?w=150" />
		<media:content url="http://akbarlaksana.files.wordpress.com/2011/12/ibu-dan-si-jihad-laksana.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">ibu dan si jihad laksana</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b1ce7060136d1015c617fd07b77af7ef?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">akbar khomeini</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://akbarlaksana.files.wordpress.com/2011/12/ibu-dan-si-jihad-laksana.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">ibu dan si jihad laksana</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Germo Riba (POPCORNzine #10)</title>
		<link>http://akbarlaksana.wordpress.com/2011/10/14/germo-riba-popcornzine-10/</link>
		<comments>http://akbarlaksana.wordpress.com/2011/10/14/germo-riba-popcornzine-10/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Oct 2011 00:06:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>AkbarLaksana</dc:creator>
				<category><![CDATA[POPCORN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akbarlaksana.wordpress.com/?p=265</guid>
		<description><![CDATA[Germo Riba! Desshiing!!!! (ceritanya bunyi peluru melesat!, gue udah milih bunyi ini sebagai backsound kemunculan POPCORNzine, ibaratnya pelurunya ketembak dan menancap dikepala pembacanya.. maksudnya biar melekat gitu..) Kalau gak salah beberapa bulan yang lalu, buka buka facebook dan ada yang share link sebuah berita yang sangad sangad sangad menggenaskan. Beritanya tentang sepasang kekasih yang melakukan &#8230; <a href="http://akbarlaksana.wordpress.com/2011/10/14/germo-riba-popcornzine-10/">Continue reading <span class="meta-nav">&#187;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akbarlaksana.wordpress.com&amp;blog=9104912&amp;post=265&amp;subd=akbarlaksana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1 style="text-align:center;"><strong>Germo Riba!</strong></h1>
<p><a href="http://akbarlaksana.files.wordpress.com/2011/10/main-saham.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-266" title="main-saham" src="http://akbarlaksana.files.wordpress.com/2011/10/main-saham.jpg?w=300&#038;h=236" alt="" width="300" height="236" /></a></p>
<p><em>Desshiing!!!! </em>(ceritanya bunyi peluru melesat!, gue udah milih bunyi ini sebagai backsound kemunculan POPCORNzine, ibaratnya pelurunya ketembak dan menancap dikepala pembacanya.. maksudnya biar melekat gitu..)</p>
<p>Kalau gak salah beberapa bulan yang lalu, buka buka facebook dan ada yang share link sebuah berita yang sangad sangad sangad menggenaskan. Beritanya tentang sepasang kekasih yang melakukan zina di bulan Ramadhan dan ternyata mereka (maaf) gak bisa ‘copot’ selama beberapa hari.</p>
<p>Namun kemudian karena kondisi tubuh keduanya yang semakin buruk akhirnya pihak keluarga gak bisa menyembunyikan aib tersebut lagi dan kemudian membawa mereka ke Rumah Sakit, sayangnya saat perjalanan ke RS itulah keduanya meninggal, dan akhirnya kedapatan oleh para wartawan yang berhasil meliput kejadian laknat tersebut..</p>
<p><em>Na’udzubillahi mindzalik!</em></p>
<p>***</p>
<p>Kalau yang ini baru hari sabtu kemarin di minggu pertama Oktober 2011,</p>
<p>Didalam <em>Meeting Room</em> sebuah perusahaan yang begitu sejuk dengan hembusan Air Conditioner..</p>
<p>Sambil menghisap sebatang rokok kemudian dia melanjutkan tawarannya pada gue,</p>
<p><em>“Gaji tertinggi di kantor wilayah Banjarmasin ini aja sebulannya 409 juta loh mas..! Kira kira tercukupi gak kalau gaji segitu..? Saya aja yang komisi perbulannya rata-rata 10-18 juta sangat tercukupi mas..”<span id="more-265"></span></em></p>
<p>Saat itu gue hanya melawan tatapan interviewnya ke gue sambil menghembuskan nafas.. Bukan, bukan karena gue terkesima apalagi bangga dipilih dan diajak menjadi karyawan di perusahaan broker saham tersebut, tapi gelisah gue ini lebih karena jijik dengan ajakannya menjadi germo riba yang mengajak orang berlumuran dosa riba.</p>
<p>Dia yang ternyata memperlihatkan KTP dan umurnya dua tahun lebih muda dari gue itu melanjutkan,</p>
<p><em>“Mas.. terus terang aja ya, saya sarjana mas. Tapi sarjana S1 saya cuma beli mas.. gampang pake uang. Hampir tiap malam saya dugem mas. Yah.. tiga malam seminggu lah saya dugem sama kawan-kawan saya, tapi pake duit saya sendiri mas. Nih.. beli Blackberry, Iphone, rumah, LCD TV, mobil, saya gak pake duit orang tua mas.. bahkan saya lagi nabung mas buat berangkatin orangtua saya umrah, gimana perasaan orangtua kita kalau kita sudah bisa beli macam-macam sendiri..?”</em></p>
<p><em>“Kerjaannya cari nasabah supaya mau transaksi investasi di bursa saham perusahaan gitu..?”</em> Gue tanya lagi lebih detil, walaupun gue udah ngerti jenis perusahaan begini.</p>
<p><em>“Ya mas!, kita tinggal cari orang-orang kaya yang bersedia investasi ratusan juta diperusahaan kita, dan kemudian kita dapat komisi jutaan juga. Gampang mas nanti kita training dua bulan dulu dengan gaji awal 500 ribu, baru nanti dipersilahkan cari nasabah. Satu nasabah aja kita dapat perbulan kemungkinan bisa sepuluh juta gaji kita mas, apalagi bisa dapat dua,tiga, bahkan lima nasabah..!” </em>dengan bersemangatnya lelaki berbadan gempal itu mengagitasi gue.</p>
<p>Gue pura pura culun, <em>“Yah.. sebanding sih kerjaannya, cari nasabah yang mau transaksi ratusan juta kita kecipratan juga jutaan rupiah, tapi dilepas gitu aja mas cari nasabahnya..?”</em></p>
<p><em>“Ya enggak lah mas, kita difasilitasi kantor, nanti ada telepon rekam, mobil, ruang meeting, dll.. Ya anggap aja nasabah itu pacar mas.. Sama aja kan.. Coba deh, sebelum kenalan sama pacar, kita pasti kenalan dulu, sama nasabah juga, habis itu pedekate sama pacar, nah sama nasabah juga.. sudah cukup dekat, kita nembak pacar kita ya kan..? nah sama nasabah juga, kita tawarkan bisnis ini..? kalau udah ada hubungan gitu, sama kayak cewe kita kan mas.. mau ditidurin juga mereka gak nolak kan..? Sama! nasabah juga mas mau diajak transaksi juga gak nolak lagi.. Soalnya mereka udah percaya…! Saya udah ngelewatin semua itu mas.. gampang..”</em></p>
<p>Gue pura-pura mau,<em> “Tapi saya masih kuliah mas, perusahaan bisa memahami gak..?”</em></p>
<p><em>“Yah iyalah mas.. tenang aja tapi asal mas mau bolak-balik Banjarbaru-Banjarmasin buat ngantor. Ya menurut saya dibandingin kerja dipukulin capek-capek  dapat 10 juta, mending kerja gini kan mas.. santai dapat 10 juta juga..” </em>dia menutup omongannya dengan senyuman khas broker yang meyakinkan nasabah. Terlihat memang sudah pengalaman sekali..</p>
<p>Di dalam pikiran gue berkecamuk berbagai pikiran. Meronta-ronta bermacam perasaan. ibarat jagung popcorn yang sedang dimasak dalam panci, meletup-letup karena kepanasan. Gue pun akhirnya pulang kembali menuju Banjarbaru untuk mengkalibrasi jiwa dan pikiran.</p>
<p>***</p>
<p>Ditengah perjalanan pulang sebuah gerobak bakso rebah disenggol mobil. Gue lihat seluruh baksonya tumpah diaspal jalan A Yani Banjarmasin saat itu. Paman bakso terlihat sedih meringis karena dagangannya siang ini yang mulai mau dijajakannya habis sudah tumpah berantakan. Miris.. gue gak membayangkan kalau gue kerja seperti itu, mampukah..?</p>
<p>Di pinggiran jalan lagi, sesosok tua yang berjalan kaki ditengah panas terlihat kelelahan. Bapak tua yang mungkin sudah lanjut usia sehingga lebih pantas disebut kakek itu menjajakan poster ditengah terik. Ya Allah.. di zaman internet mudah mendapatkan foto idola dan klub sepak bola ini, siapa lagi yang  bakal beli poster. Posternya dijual dengan harga 2 ribuan.. untungnya paling gak seberapa dibandingkan usaha beliau menyusuri jalan yang demikian gersang penuh pekat debu kendaraan.</p>
<p>Mendekati Bandara Syamsuddin Noor Banjarbaru gue kembali ditayangkan sebuah perjuangan mencari sesuap nasi dan semangkuk intan kehidupan.. Seorang kuli angkut terduduk lemas sambil diiringin tawa antara mereka, memucat muka mereka, saat tak kuasa menahan lelah harus mengangkut pipa gorong-gorong jalan yang demikian besar ditengah matahari yang sedang beraksi menyinari bumi. Ditengah para broker saham mungkin sedang asik asik nya ngobrol dengan para nasabah mereka di lounge atau café sambil meneguk mochacino atau espresso..</p>
<p>Gue kembali mencapai titik kulminasi perenungan. Apa yang salah dari kerja keras yang terlihat ‘rendahan’ tersebut kalau ternyata halal..? Namun apa yang bisa dibenarkan dari kerja yang gampang dan terlihat ‘mewah’ namun ternyata haram..? Apa yang akan terjadi pada tubuh kita dan keluarga kita yang ternyata mengkonsumsi makanan dari nafkah yang haram..? ….</p>
<p><em>“Hoooekk!!!!”</em> Umar bin Khatab muntah, mungkin begitulah bunyinya.</p>
<p>Umar muntah bukan karena ia mabok udara saat naik arena halilintar di Dufan. Bukan. Namun ia sengaja muntah tatkala mengetahui makanan yang baru ia konsumsi ternyata adalah makanan yang diperoleh dari cara yang haram. Ia tak ingin makanan haram tersebut menjadi bagian tubuhnya, setelah jelas mendengar peringatan Rasulullah, yang intinya <em>“Setiap daging yang ditumbuhkan dari makanan haram, maka api neraka lebih berhak (membakar) atas daging itu..”</em></p>
<p>Umar muntah karena keimanan dia terhadap islam, bagaimana dengan muntah kita wahai alay alay sedunia..?</p>
<p>***</p>
<p>Loncat lagi keperadaban dimana alay-isme menjadi sebuah style yang wajar bagi seorang remaja menuju tahapan pendewasaan dirinya..</p>
<p>Seorang anak muda itu tidak terlihat seperti ustadz. Pakaiannya bukan baju koko’, peci, baju gamis, bahkan sorban. Dia hanya menggunakan sweater kaos dan celana jeans, ditengah teman nongkrongnya ia membuka sebuah diskusi, <em>“Sebanyak-banyaknya keuntungan materi dunia yang bakal kita peroleh kalau memperolehnya dengan cara riba itu adalah haram. Dan walau seiprit-ipritnya pun harta yang kita konsumsi kalau itu juga harta riba, itu juga haram..!</em></p>
<p><em>Umat islam sekarang itu kebanyakan tidak konsisten untuk taat. Kenapa kita jijik dan enggan memakan babi, anjing,dan  juga tai kucing..? karena kita memahami memakan itu tadi adalah haram. Kenapa kita menyumpah benci pada perbuatan zina dan pelacuran..? karena kita telah diterangkan dalam nash nash syara’ kalau itu adalah perbuatan dosa.. Namun kenapa kita tidak jijik terhadap riba sebagaimana kita jijik memakan babi dan anjing..? kenapa kita tidak benci terhadap riba sebagaimana kita melaknat peraktik pelacuran..?!  Bukankah riba dan zina sama-sama dosa besar. Bukankah riba dan babi sama-sama diharamkan dalam Al Qur’an..? </em><strong><em>(1</em></strong><em></em></p>
<p>Pemuda itu bukan sedang marah, ia hanya menyampaikan secara tegas dan membara. Teman-temannya saat itu pun tidak merasa digurui, karena mereka sadar apa yang disampaikan sahabatnya tersebut hanyalah hal yang jelas dan telah diketahui lama oleh siapa saja yang mengkaji islam.</p>
<p>Pemuda itu berkata seperti itu bukan karena mengawang mencari topik dalam perbincangan, namun ia menyampaikan pada seluruh temannya setelah ia menemukan sebuah hadist dalam sebuah artikel yang dibacanya dan membuat ia merinding.. :</p>
<p align="center"><em>&#8220;Riba itu mempunyai 73 macam. Sedangkan (dosa) yang paling ringan (dari macam-macam riba tersebut) adalah seperti seseorang yang menikahi (menzinai) ibu kandungnya sendiri&#8230;&#8221;</em> <strong>(2</strong></p>
<p><em>Na’udzubillahi mindzalik! </em>[]<em></em></p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>Catatan kaki kaka kukunya kaku kaku :</strong></p>
<p>1)       <strong>Coba ingat dalam surah Al Baqarah : 275 </strong>,<em>&#8220;Mereka berkata (berpendapat bahwa) sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba; padahal Allah telah menghalal­kan jual beli dan telah mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepada mereka larangan tersebut dari Rabbnya lalu berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya (dipungut) pada waktu dulu (se­belum datangnya larang ini) dan urusannya (terserah) Allah. Sedangkan bagi orang-orang yang mengulangi (meng­ambil riba), maka orang-orang tersebut adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya&#8221;</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>Atau cek perkataan Rasulullah deh,</strong><em> “Apabila zina dan riba telah merajalela di suatu negeri, maka rakyat di negeri itu sama saja telah menghalalkan dirinya untuk menerima azab Allah.” </em>(HR. Ath Thabrani, Al Hakim dari Ibnu Abbas, dalam kitab Fathul Kabir jilid I hal. 132)</p>
<p><strong>Atau Sabda Rasululullah SAW,</strong> <em>&#8220;Akan datang kepada umat ini suatu masa nanti ketika orang-orang menghalalkan riba dengan alasan: aspek perda­gangan&#8221;</em> (HR Ibnu Bathah, dari Al &#8216;Auzai)</p>
<p><strong>Kalau belum puas ingat peringatan ini deh,</strong><em> &#8220;Satu dirham yang diperoleh oleh seseorang dari (perbuatan) riba lebih besar dosanya 36 kali daripadaperbuatan zina di dalam Islam (setelah masuk Islam)&#8221;</em> (HR Al Baihaqy, dari Anas bin Malik).</p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>Masih belum takut? Lihat nih,</strong><em> &#8220;Bila muncul perzinaan dan berbagai jenis dan bentuk riba di suatu kampung, maka benar-benar orang sudah meng­abaikan (tak perduli) sama sekali terhadap siksa dari Allah yang akan menimpa mereka (pada suatu saat nanti)&#8221;</em> (HR Thabrani, Al Hakim, dan Ibnu Abbas; Lihat Yusuf An Nabahani, Fath Al Kabir, Jilid I, halaman 132).</p>
<p><strong>Kalau masih belum <em>keder</em> juga, gue turunkan Elias Pical. Gak takut karena Bung Pical udah tua..? bagaimana dengan Tessy Kabul..?! </strong><strong>J</strong><strong></strong></p>
<p><strong>2)       </strong><strong>Hadist Riwayat Ibnu Majah, hadits No.2275; dan Al Hakim, Jilid II halaman 37; dari Ibnu Mas&#8217;ud, dengan sanad yang shahih</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akbarlaksana.wordpress.com/265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akbarlaksana.wordpress.com/265/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akbarlaksana.wordpress.com/265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akbarlaksana.wordpress.com/265/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/akbarlaksana.wordpress.com/265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/akbarlaksana.wordpress.com/265/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/akbarlaksana.wordpress.com/265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/akbarlaksana.wordpress.com/265/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akbarlaksana.wordpress.com/265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akbarlaksana.wordpress.com/265/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akbarlaksana.wordpress.com/265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akbarlaksana.wordpress.com/265/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akbarlaksana.wordpress.com/265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akbarlaksana.wordpress.com/265/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akbarlaksana.wordpress.com&amp;blog=9104912&amp;post=265&amp;subd=akbarlaksana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akbarlaksana.wordpress.com/2011/10/14/germo-riba-popcornzine-10/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b1ce7060136d1015c617fd07b77af7ef?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">akbar khomeini</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://akbarlaksana.files.wordpress.com/2011/10/main-saham.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">main-saham</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>WAW! Rok Mini..!</title>
		<link>http://akbarlaksana.wordpress.com/2011/10/03/waw-rok-mini/</link>
		<comments>http://akbarlaksana.wordpress.com/2011/10/03/waw-rok-mini/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Oct 2011 15:11:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>AkbarLaksana</dc:creator>
				<category><![CDATA[POPCORN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akbarlaksana.wordpress.com/?p=257</guid>
		<description><![CDATA[WAW! Rok Mini..!   “..Dari UNLAM juga nih..!” Tegur Mentri Lingkungan Hidup, Prof.Gt.Muhammad Hatta sambil menunjuk emblem lambang UNLAM di baju himpunan mahasiswa gue. “..Ya pak..” jawab gue spontan tegas karena terkejut ditegur Pak Hatta. “Fakultas apa..?” “MIPA pak..” Kemudian Pak Hatta berlalu sambil tersenyum karena kelihatannya sedang buru-buru menuju mushola, diiringi dengan ajudan dibelakangnya &#8230; <a href="http://akbarlaksana.wordpress.com/2011/10/03/waw-rok-mini/">Continue reading <span class="meta-nav">&#187;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akbarlaksana.wordpress.com&amp;blog=9104912&amp;post=257&amp;subd=akbarlaksana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1 style="text-align:center;"><strong>WAW! Rok Mini..!</strong></h1>
<p><em> </em></p>
<p><a href="http://akbarlaksana.files.wordpress.com/2011/10/ankot01.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-260" title="Ankot01" src="http://akbarlaksana.files.wordpress.com/2011/10/ankot01.jpg?w=225&#038;h=300" alt="" width="225" height="300" /></a></p>
<p><em>“..Dari UNLAM juga nih..!”</em> Tegur Mentri Lingkungan Hidup, Prof.Gt.Muhammad Hatta sambil menunjuk emblem lambang UNLAM di baju himpunan mahasiswa gue.</p>
<p><em>“..Ya pak..”</em> jawab gue spontan tegas karena terkejut ditegur Pak Hatta.</p>
<p><em>“Fakultas apa..?”</em></p>
<p><em>“MIPA pak..”</em></p>
<p>Kemudian Pak Hatta berlalu sambil tersenyum karena kelihatannya sedang buru-buru menuju mushola, diiringi dengan ajudan dibelakangnya yang menatap gue dengan muka berak, mungkin ngira gua gelandangan yang terlantar 35km dari kosannya.</p>
<p>Tapi sayangnya saat itu beliau gak tau..</p>
<p>Gak tahu kalau saat itu gue lagi puyeng kehilangan kunci motor sekaligus kunci kosan ditempat magang..!</p>
<p>***<span id="more-257"></span></p>
<p>Singkat cerita, setelah penantian panjang menanti kunci yang hilang disore hari itu gue hentikan. Sudah lebih dari dua jam muter-muter kantor tempat magang, kunci motor gue gak ketemu-ketemu juga. Dengan sedikit keterpaksaan gue putuskan untuk pulang balik dari Banjarmasin ke kosan gue di Banjarbaru naik angkot lintas kota, sekalian nostalgia lah.. udah bertahun-tahun rasanya gue gak ngerasaain asoy nya naik angkot.</p>
<p>Singkat cerita lagi, gue pun sudah bersiap dalam adegan sebagai penumpang yang duduk manis didalam angkot menuju Banjarbaru, saat itu rasanya udah jam setengah enaman sore. Tiba tiba sutradara tegas berkata..</p>
<p><em>“Camera Rolling.. Action!”</em></p>
<p>Baiklah adegan dimulai..</p>
<p>Gue duduk manis didekat pintu mobil bagian belakang, kenapa? Mungkin karena masuknya belakangan. Soalnya pas gue masuk, si sopir memutuskan untuk langsung jalan, gak nunggu lagi penumpang. Gue duduk saat itu sambil megangin helm. Helm gue sengaja gue bawa jadi kalau besok mau jemput motor udah ada helmnya, lagi pula kalau motornya sekaligus gue angkut naik angkot bakalan gak muat..</p>
<p>Pada saat itu kondisi mobil penuh sesak penumpang. Rasanya sampai 10 orang lebih. Gue jadi ingat tragedi kecelakaan mobil Saipul Jamil, yang katanya mobilnya kelebihan muatan karena penumpangnya penuh dan kecelakaan guling guling dijalanan.. dan istrinya Saipul Jamil yang saat itu posisi duduknya  dipinggir pintu meninggal dunia karena tergencet. Lah.. gue saat ini dalam angkot juga dipinggir pintu..? bagaimana dong..? bagaimana..?!</p>
<p>Ah biar aja lah.. lagi pula kalau gue meninggal Mas Saipul Jamil juga gak bakalan sedih ditinggalin gue.. Mas Saipul kan belum tentu sayang sama akika..</p>
<p>Tapi sodari sodari!  yang masalah dalam cerita ini adalah angkot gue saat itu bukan menjadi angkot horror yang ceritanya jadi mobil kelabu dalam film-film kecelakaan semacam Final Destination. Bukan! tapi malahan jadi angkot porno kayak berita pemerkosaan karyawati diangkot jakarta beberapa waktu yang lalu.</p>
<p>Kenapa? Jujur aja yah.. didalam angkot itu terdiri dari beraneka ragam jenis. Ada cewe ada cowo. Dan bermacam kategori umur, ada nenek nenek, bapak-bapak, pria dewasa dan seorang pemuda keren yang nenteng nenteng helm didalam angkot.. dan yang masalah didalam angkot itu juga ada karyawati-karyawati cantik yang memakai rok mini.. dan ini beneran! Beneran mini..! mini semini mininya sampai sampai saat mereka duduk jadi semakin mini.. (bro bro.. cukup gak usah dibayangin.. gue gak mau POPCORNzine jadi selebaran mesum..)</p>
<p>Itu terbukti saat gue buka pintu angkot pas mau masuk. Pemandangan <em>waw!</em> itu terlihat secara terpaksa.. (hehe). Dan pemandangan <em>waw! </em>itu akhirnya tersangkut di memory kepala bujangan gue dan ternyata menggangu system otak untuk berfikir kembali jernih..</p>
<p>Untung aja gue masih punya urat malu dan tau diri, gak ngelirik-ngelirik ke wilayah <em>waw!</em> tersebut walaupun kesempatan itu memang tersedia (hehe). Awalnya gue takut kalau orangnya nanti marah, dan kemudian niatan itu berhasil berubah menjadi kesadaran; kalau gue tewas dalam mobil kali ini mau ngomong apa gue sama malaikat karena ketangkap basah gue lagi melotot mesum ke wilayah <em>waw!</em> Itu, dan itu adalah aktivitas terakhir gue.. dicambuk cambuk deh gue..</p>
<p>Saat itu entah kenapa pikiran gue jadi pingin cepet punya bini. Dan gue pun akhirnya merasakan jangan jangan ini yang dirasakan sama pemerkosa pemerkosa karyawati rok mini di dalam angkot itu. Siapa yang tahan coba.. apalagi sebegini dekatnya. Wajar naluri berkembang biak lelaki menjadi semakin bangkit dan mengaung ngaung kayak serigala yang jempol kakinya kejepit pintu. Kalau gak tahan, dan gak sadar kalau itu perbuatan dosa, bisa jadi gue terdaftar masuk dalam anggota partai pemerkosa divisi angkot cabang Kota Banjarbaru.</p>
<p>Untuk mententramkan pikiran, gue setel Sony Walkman dan mencari cari lagu jadulnya Jamrud  kemudian karokean dalam hati “Tuhaan tolooong cuci ootak kuu dari pikiraan cabuul..”</p>
<p>Akhirnya gue coba pedekate dengan mbak-mbak rok mini itu,  <em>“Mbak.., mbak merasa nyaman gak kalau tubuhnya dilihat lelaki dengan tatapan kebinatangan, bukan malah ditatap dengan tatapan kekaguman..?”</em></p>
<p>Mbak pertama yang pake baju kantoran berwarna biru gelap terhenyak saat lagi asik memainkan BBnya. <em>“Ya enggak lah..! siapa sih yang merasa  nyaman dilecehkan..”</em></p>
<p><em>“Kalau di mall atau kantor kadang mbak suka merasa dilecehkan gak, merasa ditelanjangi dengan tatapan?”</em></p>
<p><em>“Iya sih mas, jujur merasa gak nyaman juga.. soalnya yang namanya lelaki hampir sama aja sih..”</em> jawab mbak kedua yang pakai baju kemeja putih dan rok mini hitam sambil tertawa.</p>
<p><em>“Iya bener mbak makanya saya dari dulu gak mau sama yang namanya lelaki..! “</em> jawab gue menanggapi gak nyambung. Kemudian gue nanya lagi, <em>“Eh Mbak.. kenapa sih gak nutup aurat aja sekalian..? maksudnya menggunakan jilbab..?”</em></p>
<p>Mereka berduapun tertawa, <em>“ha..ha..ha.. pengennya sih mas.. masalahnya belum dapat hidayah kali ya mas..”</em></p>
<p><em>“Hmm.. hidayah itu kan bukan sesuatu yang merasuk dalam tubuh tiba-tiba kayak orang kesurupan. Hidayah itukan petunjuk, dan petunjuk itu telah ada. Mbak baca Al Qur’an kan..”</em></p>
<p><em>“Ya..”</em> jawab mbak pertama mulai menatap serius.</p>
<p><em>“Qur’an itu lah petunjuk! Mbak melihat alam semesta dan merasakan kebasaranNya..?”</em></p>
<p><em>“Ya..” </em>mereka berfikir.</p>
<p><em>“Alam semesta itu juga petunjuk. Mbak memiliki akal untuk berfikir dan melakukan perenungan?”</em></p>
<p><em>“Tentu”</em></p>
<p><em>“Dan akalpun adalah petunjuk. Lantas, bagaimana bisa kita mengatakan belum mendapat hidayah atau petunjuk sementara petunjuk itu becahaya-cahaya menerangi diri Mbak..? Bagaimana mungkin mbak yang cantik ini mengatakan belum mendapatkan petunjuk sementara Mbak memiliki Al Qur’an yang mulia, Mbak memiliki petunjuk mengenai alam semesta, dan mbak memiliki akal untuk memikirkan dan merenungi perintah Allah yang tertera didalam Al Qur’an”</em></p>
<p>Gue menghela nafas singkat.. <em>“Mbak.. petunjuk itu sudah ada dihadapan kita.. Tinggal mbak memilih, mau meniti jalan yang telah disinari petunjuk illahi atau jalan yang pekat dalam kegelapan. Pilihan ada ditangan Anda.. Mbak.”</em></p>
<p>Tiba tiba gerbang UNLAM Banjarbaru sudah terlihat. Gue minta secara paksa agar sopir mengentikan mobil, dan gue turun disana untuk segera ke Masjid kampus mencari pinjaman motor menuju kost. Gue tinggalkan kedua mbak rok mini tersebut dengan kontemplasi yang bergejolak dikepala mereka. <em>Biarin..</em></p>
<p>***</p>
<p>Gue jadi ingat saat Gubernur DKI Fauzi Bowo menanggapi maraknya pemerkosaan pada penumpang angkot yang memakai rok mini, dan mengeluarkan statement kalau yang salah itu juga pemakai rok mininya, dan dia mengecam perempuan agar tidak memakai rok mini.. eh malah dia yang di demo dan dikecam balik sama sekelompok perempuan pembela rok mini.. <em>“Bukan otak kami yang salah, tapi otak kalian yang mini..! Kendalikan nafsumu, bukan kendalikan pakaianku..! My Rok Mini, My Right..!”</em> monyong monyong mereka teriak yel yel saat aksi di bundaran HI Jakarta.</p>
<p>Hati hati loh kalau sekelompok pemerkosa dan pengintip isi rok mini juga turun aksi ke jalan unjuk rasa bikin yel yel<em>, “Rok Mini hak wanita.. tapi ngintip isi rok mini juga hak kami..! jangan hanya salahkan nafsu kami, juga salahkan kesempatan yang datang pada kami..! Kendalikan pakaianmu, karena kami berniat memperkosamu..!”</em></p>
<p><em>Wehehe..</em></p>
<p>Tapi tenanglah.. gue bukan termasuk diantara para pemerkosa, juga bukan termasuk diantara pembela rok mini itu. Karena jujur gue sampai saat ini belum pernah pakai rok mini.. #apamaksudnyanih?</p>
<p>Sederhana saja sebenarnya.. Bagaimana angka pemerkosaan akan turun kalau rok Anda semakin naik..? Dan benar! Lihat saja fakta data rata rata dalam satu jam ada berapa pemerkosaan terjadi dimuka bumi..? ada 28 pemerkosaan! Dan pesan gue, walau suatu saat merkosa orang, merkosa cewe, merkosa cowo, bahkan merkosa bencong menjadi tren dimuka bumi ini. Maka lebih baik engkau jangan ikutan. Dosa bro dosa..! []</p>
<p>03092011 09.30wita</p>
<p><em>dijambret dari :</em> <a href="http://popcornzine.wordpress.com/2011/10/05/waw-rok-mini-8/">http://popcornzine.wordpress.com/2011/10/05/waw-rok-mini-8/</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akbarlaksana.wordpress.com/257/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akbarlaksana.wordpress.com/257/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akbarlaksana.wordpress.com/257/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akbarlaksana.wordpress.com/257/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/akbarlaksana.wordpress.com/257/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/akbarlaksana.wordpress.com/257/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/akbarlaksana.wordpress.com/257/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/akbarlaksana.wordpress.com/257/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akbarlaksana.wordpress.com/257/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akbarlaksana.wordpress.com/257/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akbarlaksana.wordpress.com/257/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akbarlaksana.wordpress.com/257/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akbarlaksana.wordpress.com/257/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akbarlaksana.wordpress.com/257/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akbarlaksana.wordpress.com&amp;blog=9104912&amp;post=257&amp;subd=akbarlaksana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akbarlaksana.wordpress.com/2011/10/03/waw-rok-mini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b1ce7060136d1015c617fd07b77af7ef?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">akbar khomeini</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://akbarlaksana.files.wordpress.com/2011/10/ankot01.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Ankot01</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Monster Dalam Diri..</title>
		<link>http://akbarlaksana.wordpress.com/2011/08/20/250/</link>
		<comments>http://akbarlaksana.wordpress.com/2011/08/20/250/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Aug 2011 14:18:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>AkbarLaksana</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita jiwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akbarlaksana.wordpress.com/?p=250</guid>
		<description><![CDATA[Monster Dalam Diri… Sesuatu yang fitrah apabila diaplikasikan dengan salah dapat membuahkan fitnah..  Entah kenapa akhir-akhir ini sangat sulit sekali untuk bersabar.. walau akhirnya saya tetap bertahan sampai saat ini untuk tidak meledakkan emosi yang meluap-luap dalam diri. Saya memang berwatak keras dan emosional. Sejak kecil sudah biasa berkelahi dengan banyak kawan. Sudah biasa gebak-gebuk &#8230; <a href="http://akbarlaksana.wordpress.com/2011/08/20/250/">Continue reading <span class="meta-nav">&#187;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akbarlaksana.wordpress.com&amp;blog=9104912&amp;post=250&amp;subd=akbarlaksana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1 style="text-align:center;"><strong>Monster Dalam Diri…</strong></h1>
<p align="center"><em>Sesuatu yang fitrah apabila diaplikasikan dengan salah dapat membuahkan fitnah..</em></p>
<p align="center"><a href="http://akbarlaksana.files.wordpress.com/2011/08/anekaaneka-background-friendster_html_8a59d19.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-254" title="anekaaneka-background-friendster_html_8a59d19" src="http://akbarlaksana.files.wordpress.com/2011/08/anekaaneka-background-friendster_html_8a59d19.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p><em> </em>Entah kenapa akhir-akhir ini sangat sulit sekali untuk bersabar.. walau akhirnya saya tetap bertahan sampai saat ini untuk tidak meledakkan emosi yang meluap-luap dalam diri.</p>
<p>Saya memang berwatak keras dan emosional. Sejak kecil sudah biasa berkelahi dengan banyak kawan. Sudah biasa gebak-gebuk menyelesaikan masalah layaknya kaum barbar. Hingga bedan memar sudah menjadi aksesoris tubuh, sehingga percaya-tidak percaya rasa pukulan itu menjadi tidak terlalu sakit saat itu saya rasakan. Mungkin sama halnya dengan seseorang yang biasa berada digurun, dan tersengat matahari tak lagi mengeluh walau badannya penuh peluh..</p>
<p>Bukan untuk menyombongkan diri, karena tak ada yang patut disombongkan dari pengalaman berbuat salah. Tak pantas kita berbangga ria disaat kita melanggar perintah Sang Kuasa.. tak pantas seseorang nyengir kuda, sedangkan dibibirnya tersisa <em>khamr</em> minuman neraka..<span id="more-250"></span></p>
<p>Suatu ketika saya pernah terlontar kata tak senonoh ditengah emosi yang pelik, suatu ketika pula saya pernah membentak saat kesabaran tak lagi terkontrol. Memang saat meluapkan nya ada rasa menenangkan sedikit kegalauan hati yang sedang panas. Memang lega, layaknya melepaskan kentut dengan rileks luar biasa tak tahu malu ditengah orang banyak yang sedang menikmati makan.</p>
<p>Disisi lainnya juga, pasti kita merasa bersalah dan berdosa saat terlanjur reaksi pelampiasan (emosi) itu kita luapkan sebarangan. Kita merasa tak pantas saat ungkapan yang kita harap menunjukan diri kita yang sedang kesal dan butuh pengertian, malah mendapati diri kita menjadi objek yang dibenci atas kelalaian sikap kita. <em>‘saya sedang menunjukan kegalauan.. mengharap pengertian bukan ejekan..’</em> mungkin itu jerit hati kita. Tapi itu juga kesalahan kita, karena kita tak bisa serta merta mewajibkan orang harus berempati atas segala perbuatan kita..</p>
<p>Pernah, saat mengendarai sepeda motor dalam kondisi lelah, pikiran membuncah, dan energi telah terkuras terperah, ditengah perjalanan tiba-tiba disalip serampangan oleh orang yang tengah berpacaran berpelukan. Sudah mereka tidak memakai helm, naik motornya membahayakan, menyalip tanpa berfikir dulu keselamatan dia dan disalip, tertawa cekikikan menganggap dunia hanya milik mereka berdua.. <em>yah</em>..saya hanya bisa mengeluh.</p>
<p>Pikiran saya saat itu hanyalah ide beringas yang muncul saat monster dalam diri mengamuk. Pingin sekali rasanya membalab mereka dan menendang mereka sampai jatuh terjerembab. Kemudian tertawa licik dan berteriak sumpah serakah kemudian kabur tanpa rasa bersalah.</p>
<p>Namun, <em>oh.</em>.<em> semesta</em> sungguh bukankah perbuatan itu sangat tercela..? sungguh perbuatan menyalurkan hasrat kebinatangan tersebut sejatinya tak memberikan kedamaian bagi saya, yang ada mungkin kepuasan sementara diliputi rasa bersalah yang meletup bunyi dalam hati nurani yang berbicara..</p>
<p>Saya yakin banyak diantara para pengejar surga, pemburu pahala, dan loper kebenaran adalah orang-orang yang tak luput dari rasa ingin untuk melakukan kemaksiatan. Bahkan bisa jadi ada diantaranya yang tak kuat untuk melakukan sebuah kebrengsekan, saat rasa sakit hati meledak-ledak dibenaknya maupun nafsu memberingas dalam dirinya,.. contohnya ya saya.</p>
<p>Sering kali saya dan beberapa sahabat bercakap penuh kepolosan saat saling mengutarakan kisah jujur masing-masing. Mulai dari keinginan ikut-ikutan pacaran, mencemplungkan diri kebisnis ribawi, jalan-jalan kelokalisasi, sampai keinginan menempeleng bahkan membunuh orang yang bagi kami memang harus dimusnahkan dari muka bumi.. <em>seram bukan..?! </em></p>
<p>Syukurnya semua itu hanya terbatas pada sebuah kata ‘ingin’ yang kami tambahkan dengan kalimat ‘seandainya dihalalkan’.. Kami memang ingin. Namun masih lebih ingin selalu mematuhi segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Karena kami yakin seyakin-yakinnya islam bukanlah agama yang mengekang pelampiasan naluri seorang hamba. Namun islam adalah mengatur bagaimana cara melampiaskannya, agar segala kebaikan dapat tercurah kembali pada yang mentaatinya.</p>
<p>Siapapun kita pasti memiliki monster dalam diri yang suatu waktu berontak untuk memaksa melakukan pelecehan kebenaran dengan melampiaskan nafsu setan. Siapa pun pernah merasakan pemberontakan jiwa tersebut.. Namun tidak semua mampu untuk menahan, seraya membangun bendungan kesabaran juga kesadaran bahwa tindakan tersebut tiada pantas untuk diterapkan.</p>
<p>Kesadaran dalam melakukan segala perbuatan adalah penting bagi kita seorang yang beriman. Bagaimana seonggok kesadaran diri sebagai hamba yang diciptakan oleh Sang Kuasa, harus mampu menuntun setiap detik langkah aktivitas hanya berpatokan pada garis hukum syara’ yang telah ditetapkan-Nya. Tak ada penyelewengan, tak ada berani penentangan. Karena segala keselamatan diakhirat kelak sungguh ditentukan pada apa yang telah diperbuat. Sebutir pelanggaran akan bersaksi dan menuntut pertanggung jawaban diakhirat..</p>
<p>Monster dalam diri setiap individu bisa dianggap sebagai musibah, namun pula sebenarnya adalah fitrah. Monster dalam diri setiap kita juga sebenarnya adalah potensi. Potensi yang berharga jika mampu digunakan untuk mendukung aktivitas diri. Mendukung aktivitas diri mengukir prestasi khususnya dalam memompa semangat dan nafsu menyebarkan cahaya illahi.</p>
<p>Marahmu bukan lagi menjadi api yang merajalela membuta menghanguskan, namun berubah menjadi layaknya api yang menghangatkan dan mampu digunakan untuk mengubah bahan mentah menjadi makanan –jika digunakan secara benar. Tangismu menjadi mutiara jika dikeluarkan untuk merenungi dan bermuhasabah, namun justru menjadi cela jika dikeluarkan sia-sia. Bencimu menjadi halal jika diletakkan untuk membenci kemaksiatan yang mewabah, namun menjadi musibah jika diwujudkan untuk membenci seruan taqwa. Senangmu pun menjadi pahala jika diungkapkan untuk mensyukuri karunia, namun menjadi petaka jika mensenangi zina maupun riba.. Dan iri mu pula menjadi pelecut pahala jika teletak dihati untuk iri pada perbuatan taqwa, bukan larut iri pada kekayaan harta buta belaka..</p>
<h1 style="text-align:center;">وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ</h1>
<p align="center"><em>&#8220;Telah kami tunjukkan kepadanya dua jalan hidup (baik dan buruk)&#8221;</em> <strong>(Al-Balaad 10).</strong></p>
<h1 style="text-align:center;">فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا</h1>
<p align="center"><em>&#8220;lalu memberikan kepada jiwa manusia potensi untuk mengerjakan yang maksiat dan yang taqwa&#8221;</em><strong>(Asy-Syams 8).</strong></p>
<p>Pertanyaannya bukan mampukah kita meredam marah saat dicela maupun dihina, bukan pula bisakah kita menahan tangis saat hati menjerit. Namun mampukah kita mengendalikan kemunculan emosi itu dalam diri, bukan sebaliknya emosi dalam diri tersebut yang malah mengendalikan kita.., serta membutakan kita hingga lupa kepada garis syara’.. Karena bagaimanapun pilihan ada ditangan kita, dan pertanggung jawaban akan ditimpakan pada diri kita, maka berhati-hatilah semua dari kita.. (!!!)</p>
<h1 style="text-align:center;">كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ</h1>
<p align="center"><em>&#8220;Setiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya&#8221; </em><strong>(Al-Mudatstsir 38).</strong></p>
<p>[PLM,19-08-2011]</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akbarlaksana.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akbarlaksana.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akbarlaksana.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akbarlaksana.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/akbarlaksana.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/akbarlaksana.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/akbarlaksana.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/akbarlaksana.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akbarlaksana.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akbarlaksana.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akbarlaksana.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akbarlaksana.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akbarlaksana.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akbarlaksana.wordpress.com/250/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akbarlaksana.wordpress.com&amp;blog=9104912&amp;post=250&amp;subd=akbarlaksana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akbarlaksana.wordpress.com/2011/08/20/250/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b1ce7060136d1015c617fd07b77af7ef?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">akbar khomeini</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://akbarlaksana.files.wordpress.com/2011/08/anekaaneka-background-friendster_html_8a59d19.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">anekaaneka-background-friendster_html_8a59d19</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hidden Power (Mungkin POPCORNzine #07)</title>
		<link>http://akbarlaksana.wordpress.com/2011/08/14/hidden-power-mungkin-popcornzine-07/</link>
		<comments>http://akbarlaksana.wordpress.com/2011/08/14/hidden-power-mungkin-popcornzine-07/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Aug 2011 23:12:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>AkbarLaksana</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel renyah]]></category>
		<category><![CDATA[POPCORN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akbarlaksana.wordpress.com/?p=241</guid>
		<description><![CDATA[Hidden Power Lama tak bersua. Kemana gerangan POPCORNzine imut-imut yang biasanya nampang di mading, meja, kursi, bahkan dibak sampah kampus dengan judul-judul serampangannya..? Mati kah ia. Oooh pasti semua yang pernah mengenalnya dan membacanya pasti kan menyanggah tidak. Karena POPCORNzine memang sudah mati sejak ia dilahirkan. Merupakan takdir bagi selebaran butut tersebut menjadi benda mati &#8230; <a href="http://akbarlaksana.wordpress.com/2011/08/14/hidden-power-mungkin-popcornzine-07/">Continue reading <span class="meta-nav">&#187;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akbarlaksana.wordpress.com&amp;blog=9104912&amp;post=241&amp;subd=akbarlaksana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1 style="text-align:center;"><strong>Hidden Power</strong></h1>
<p><a href="http://akbarlaksana.files.wordpress.com/2011/08/hemingway.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-242" title="hemingway" src="http://akbarlaksana.files.wordpress.com/2011/08/hemingway.jpg?w=338&#038;h=219" alt="" width="338" height="219" /></a></p>
<p>Lama tak bersua. Kemana gerangan POPCORNzine imut-imut yang biasanya nampang di mading, meja, kursi, bahkan dibak sampah kampus dengan judul-judul serampangannya..?</p>
<p>Mati kah ia. Oooh pasti semua yang pernah mengenalnya dan membacanya pasti kan menyanggah tidak. Karena POPCORNzine memang sudah mati sejak ia dilahirkan. Merupakan takdir bagi selebaran butut tersebut menjadi benda mati yang digunakan penulisnya sebagai sarana memuntahkan berbagai pemikiran yang mungkin sesak ia pendam sendiri, yang mungkin akan lebih berwarna dunia baginya kalau ia mampu membagi..</p>
<p>Serorang lelaki tua itu terduduk termenung seorang diri. Pandangan matanya yang kabur diarahkan menghadap cakrawala langit yang kelabu. Ia megidap gundah gulana yang bergejolak, seolah terdapat bom C4 pada dirinya yang kini membunyi melekik tiap detiknya menunggu waktu meledak. Oh.. seandainya ia mampu untuk sebentar membuka laptop dan mengakses internet, maka perasaan yang saat ini tren dikatakan galau itu akan tersampaikan pada dunia.. akan ia kabarkan pada semesta maya,  bahwa sebuah cerita muram mengalun tentang dirinya..</p>
<p>Seperti halnya komedi gue pun muncul tiba-tiba.. <em>tring!<span id="more-241"></span></em></p>
<p>“maaf bung.. bisa duduk disamping Anda..?” sapa gue sopan sambir nyegir kuda.</p>
<p>“Maaf silahkan saja, tapi siapa Anda wahai lelaki tak jelas..?” sambil tetap memandang langit ia membalas sapa.</p>
<p>“Oh panggil aja saya VJ Daniel..”</p>
<p>“Wah siapa VJ Daniel toh mas..?”</p>
<p>“VJ Daniel itu sahabatnya Noam Chomsky, Noam Chomsky itu bukan orang sumedang dan dia juga gak kenal sama Bunda Dorce, Tapi Saya kenal kok siapa Dorce, siapa Noam Chomsky..”</p>
<p>“apa sih&#8230;mas ini.. saya ini udah bingung malah ditambah bingung..”</p>
<p>Feeling gue mengatakan bahwa inilah kesempatan! Inilah kesempatan menjadi seorang konsultan gadungan, karena  kata seorang Morce (Dorce gadungan) ‘kesempatan itu tak datang dua kali.. tapi bisa tiga kali, empat kali, dan banyak kali.. namun kalau bisa dikesempatan pertama. Kenapa tidak..? ‘</p>
<p>Gue pun mulai bersungut-sungut. “eeng.. kira-kira apa yang bisa saya bantu yah pak..?”</p>
<p>“Gini mas, saya masih merasa kecewa dan juga bahagia tentang kejadian yang pernah saya lewati beberapa tahun dahulu..” bapak itu memulai kisah, gue pun menyiapkan POPCORN buat kami berdua.</p>
<p>“Loh kejadian apa pak.. kayaknya menarik..?”</p>
<p>“kejadian itu saat saya berumur 16 tahun… [<em>ceritanya tema adegan menjadi hitam putih</em>]</p>
<p>..saat tinggal bersama orang tua di sebuah lembaga yang didirikan oleh kakak saya, di tengah-tengah kebun tebu, 18 mil di luar kota Durban, Afrika Selatan. Kami tinggal jauh dari pedalaman dan tidak memiliki tetangga. Makanya  saya dan dua saudara perempuan saya sangat senang bila ada kesempatan pergi ke kota untuk mengunjungi teman atau menonton bioskop..”</p>
<p>“Oh bapak ini orangAfrika toh..?”</p>
<p>“Bukan mas saya asli India loh.. jangan ganggu dulu deh.. saya kan masih cerita..</p>
<p>Suatu hari, ayah meminta saya untuk mengantar beliau ke kota untuk menghadiri konferensi sehari penuh. Tentu saya sangat gembira dengan kesempatan itu. Mengetahui bahwa saya akan berangkat ke kota, ibu memberikan daftar belanjaan yang diperlukan. Selain itu, ayah juga meminta saya untuk mengerjakan beberapa pekerjaan yang lama tertunda, seperti nyervis mobil di bengkel.</p>
<p>Pagi itu, sampai di tempat konferensi, ayah berkata<em>, “Tunggulah kau disini jam 5 sore. Lalu kita akan pulang ke rumah bersama-sama.” </em>Saya segera menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang diberikan. Kemudian, saya pergi ke bioskop. Saat itu, saya benar-benar kagum dengan dua film yang dimainkan oleh John Mayne sehingga lupa waktu. Dan saat saya melihat ke jam, betapa terkejutnya saya karena Begitu melihat jarum jam telah menunjukkan pukul 5.30 sore..!”</p>
<p>“Opp dulu pak.. nih makan POPCORN dulu mumpung masih hangat..” tawar gue.</p>
<p>“Oh iya makasih. Enak yah beli dimana..?”</p>
<p>“Di bioskop yang diceritakan bapak tadi kan.. pas bapak cerita lagi nonton di bioskop saya sempatkan beli POPCORN..”</p>
<p>“Oohh.. pantesan rasanya pernah ngerasain gituh..”</p>
<p>“Eh gimana tadi ceritanya pak..? katanya udah kaget tadi gimana.. terlambat gimana tadi pak..?”</p>
<p>“Oh iya! Gara-gara kamu sih..!</p>
<p>..Saya pun segera berlari menuju bengkel mobil, buru-buru menjemput ayah.  Saat itu hampir pukul 6.</p>
<p>Dengan gelisah ayah menanyai saya, <em>“Kenapa kau terlambat?”</em></p>
<p>Saya sangat malu untuk mengakui bahwa saya menonton film John wayne sehingga saya menjawab, “Tadi mobilnya belum siap sehingga saya harus menunggu.”</p>
<p>Padahal, ternyata tanpa sepengetahuan saya, ayah telah menelepon bengkel mobil itu sebelumnya. Dan, kini ayah tahu kalau saya berbohong.</p>
<p>Ayah pun berkata<em>, “Ada sesuatu yang salah dalam membesarkan kamu sehingga kamu tidak memiliki keberanian untuk menceritakan kebenaran. Untuk menghukum kesalahan ayah ini, ayah akan pulang ke rumah dengan berjalan kaki sepanjang 18 mil dan memikirkannya baik-baik.”</em></p>
<p>Lalu, dengan tetap mengenakan pakaian dan sepatunya, ayah mulai berjalan kaki pulang ke rumah. Padahal hari sudah gelap, sedangkan jalanan sama sekali tidak rata.</p>
<p>Saya tidak bisa meninggalkan ayah, maka selama setengah jam saya mengendarai mobil pelan-pelan di belakang beliau. Melihat penderitaan yang dialami oleh ayah hanya karena  kebohongan bodoh yang saya lakukan, maka Sejak itu saya tidak pernah berbohong lagi.</p>
<p>Seringkali saya merenungi kejadian itu dan merasa heran. Seandainya ayah menghukum saya seperti kita menghukum anak-anak kita, apakah saya akan mendapatkan sebuah pelajaran? Saya kira tidak. Saya mungkin akan menderita atas hukuman itu dan melakukan hal yang sama lagi. Tetapi, hanya dengan satu tindakan tanpa-kekerasan yang sangat luar biasa, sehingga saya merasa kejadian itu baru terjadi kemarin. Itulah kekuatan tanpa-kekerasan” Tutup bapak itu.</p>
<p>Gue pun terperanjat dengan kisah sang bapak tadi. Mukanya yang diawal gue temui tampak muram tampak kusut kini terlihat cerah secerah lampu petromax disiang hari. Gue pikir doi bakalan merentet cerita gerundung masalah, tapi ternyata malah memberikan inspirasi luar biasa.</p>
<p>“Wuih.. bapaknya bapak hebat sekali dalam mendidik bapak ya..?” ucap gue berbelit-belit.</p>
<p>“itulah pelajaran berharga yang diwariskannya ke saya. Sebuah kekuatan tanpa kekerasan..”</p>
<p>“Ngomong-ngomong nama bapak siapa ya..? biar kalo saya masukan ceritanya nanti di POPCORN zine semuanya bisa tau..”</p>
<p>“Idih genit deh nanya-nanya nama saya.. nama saya Dr. Arun Ghandi, cucunya Mahatma Gandhi .”</p>
<p><em>Tring!</em> Tiba-tiba Dr.Arun Ghandi menghilang dalam sekejap. Kayaknya kembali ke kampung halamannya di India. Ah biarlah.. lagi pula halaman zine ini tak cukup untuk menambah cerita konyol gue dan si Doktor india..</p>
<p>Kekuatan tanpa kekerasan..? Menurut gue itu lebih pada konsep perubahan yang diawali dari menyentuh akal, dan mencolek hati. Memberi pendidikan menawan yang membentuk pola pikir, dan mengelus emosi, tanpa melukai.</p>
<p>Dan jauh sebelum Gandhi’s Family menerapkannya, Sungguh seorang Muhammad saw.telah mengimplementasikan saat diawal dakwah di kota Mekkah.. Tahapan mencerdaskan manusia, melawan kemaksiatan dengan <em>laa madiyah</em> tanpa kekerasan. Yang uniknya justru sikap melawan tanpa kekerasan beliau malah membuahkan kekuatan besar yang mampu menakjubkan dunia dengan mendirikan sebuah Daulah dikota Madinah. Yang berikutnya terangkum dalam rentetan sejarah kekuatan itu mampu mencerahkan dunia dan seisinya dengan sebuah sumber kekuatan taqwa..</p>
<p>Gue jadi ingat sebuah  pepatah unik; “Anda mungkin bisa memaksa menggiring seekor keledai ke pinggir sungai. Namun, percayalah. Anda tidak akan bisa memaksanya untuk minum..”</p>
<p>[]</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akbarlaksana.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akbarlaksana.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akbarlaksana.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akbarlaksana.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/akbarlaksana.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/akbarlaksana.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/akbarlaksana.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/akbarlaksana.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akbarlaksana.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akbarlaksana.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akbarlaksana.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akbarlaksana.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akbarlaksana.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akbarlaksana.wordpress.com/241/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akbarlaksana.wordpress.com&amp;blog=9104912&amp;post=241&amp;subd=akbarlaksana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akbarlaksana.wordpress.com/2011/08/14/hidden-power-mungkin-popcornzine-07/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b1ce7060136d1015c617fd07b77af7ef?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">akbar khomeini</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://akbarlaksana.files.wordpress.com/2011/08/hemingway.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">hemingway</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>“Kawinin kakak ku..” (Sambungan Perfect Thurt) POPCORN edisi 6 ½</title>
		<link>http://akbarlaksana.wordpress.com/2011/08/14/%e2%80%9ckawinin-kakak-ku-%e2%80%9d-sambungan-perfect-thurt-popcorn-edisi-6-%c2%bd/</link>
		<comments>http://akbarlaksana.wordpress.com/2011/08/14/%e2%80%9ckawinin-kakak-ku-%e2%80%9d-sambungan-perfect-thurt-popcorn-edisi-6-%c2%bd/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Aug 2011 08:54:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>AkbarLaksana</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel renyah]]></category>
		<category><![CDATA[Esai Gue]]></category>
		<category><![CDATA[POPCORN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akbarlaksana.wordpress.com/?p=230</guid>
		<description><![CDATA[“Kawinin kakak ku..”  (POPCORN edisi 6 ½ ..? iya emangnya kenapa. Inikan selebaran suka-suka. Jadi nomor edisinya juga suka-suka. Lagi pula edisi kali ini masih sepupuan sama edisi enam kemarin kok..) Hari itu begitu terik, namun panasnya tak menyengat kulit, dikarenakan gue asik berteduh dibawah tenda yang sengaja dipasang diatas tribun S3.3 Stadion 17 Mei &#8230; <a href="http://akbarlaksana.wordpress.com/2011/08/14/%e2%80%9ckawinin-kakak-ku-%e2%80%9d-sambungan-perfect-thurt-popcorn-edisi-6-%c2%bd/">Continue reading <span class="meta-nav">&#187;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akbarlaksana.wordpress.com&amp;blog=9104912&amp;post=230&amp;subd=akbarlaksana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1 style="text-align:center;"><strong>“Kawinin kakak ku..” </strong></h1>
<p align="center"><a href="http://akbarlaksana.files.wordpress.com/2011/08/kaget.png"><br />
</a>(<em></em><em>POPCORN edisi 6 ½ ..? iya emangnya kenapa. Inikan selebaran suka-suka. Jadi nomor edisinya juga suka-suka. Lagi pula edisi kali ini masih sepupuan sama edisi enam kemarin kok..)</em></p>
<p align="center"><a href="http://akbarlaksana.files.wordpress.com/2011/08/kaget.png"><img title="kaget" src="http://akbarlaksana.files.wordpress.com/2011/08/kaget.png?w=300&#038;h=202" alt="" width="300" height="202" /></a></p>
<p>Hari itu begitu terik, namun panasnya tak menyengat kulit, dikarenakan gue asik berteduh dibawah tenda yang sengaja dipasang diatas tribun S3.3 Stadion 17 Mei kala itu. Pelangak-pelongok karena tribun masih belum sesak. Beberapa teman yang bertugas menjadi panitia sedang cihuy dengan tugasnya masing-masing. Sambutan-sambutan dari MC di panggung besar ditangah lapangan membahana membakar suasana bersemangat di pagi hari, dalam sebuah momen Konferensi yang menyedot ribuan masyarakat Kalsel.</p>
<p>Sambil menikmati snack dengan gagah perkasa, tiba-tiba kantong celana bergetar-getar. Sepertinya ada pak POS di dalam HP yang melapor membawa pesan,</p>
<p><strong>[From 082119197xxx : kwni k2 q..]</strong></p>
<p>Waw! Ada apa ini?! Sebuah sms dari nomor yang tidak dikenal, dengan pesan yang begitu menampar : Kawini kakak ku. Emang gue salah apa..? perasaan belum pernah hamilin anak orang. Belum pernah juga koar-koar udah kebelet nikah. Belum pernah pula rasanya bikin masalah sama anak gadis orang. Langsung tengok kanan kiri mencoba mencari apa ada kawan yang lagi ngerjain. Atau cari kamera tersembunyi kalau-kalau lagi masuk acara realityshow.<span id="more-230"></span></p>
<p>Dengan berbagai kontemplasi dikepala, langsung gue balas smsnya dengan senandung yang begitu garing, sebagaimana gue membalas sms dari nomor tak dikenal : ‘siapa ni..?’</p>
<p>Sedetik kemudian sms yang gue kirim belum terbalsakan. Dua detik masih juga, hingga waktu masih berlanjut sampai 10 menit, dan penasaran di kepala tak juga berhenti. Siapa ya? Siapa ya? Berbagai variasi perasaan berganti memainkan pikiran. Mulai dari takut, jangan-jangan gue pernah gak sadar ngamilin anak orang..?!, Sampai berganti perasaan Ge-er, jangan-jangan ada anak yang begitu terpesona dengan kebegitu miripannya gue dengan Brad Pitt sehingga pingin banged kakak perempuannya harus jadi bini gue..? (whehe..)</p>
<p>Lamunan pun tersentak dengan ucapan nyaring salam dari MC. Wah acaranya udah mulai. Stadion pun sudah mulai gemuruh dengan seruan takbir. Dipenuhi kibaran ar raya’ dan al liwa’ yang berjoget ria dimaiankan oleh pengibarnya kekanan kekiri. Membuat nafas menggebu, semangat meronta, minta diuangkapkan dalam bentuk ikut-ikutan berkata..</p>
<p>Gue pun teringat kalau didalam ransel juga tersimpan al liwa. Gue buka, sambil pelangak-pelongok mencari tongkat yang gak kepake. Nihil. Tak berapa lama memutuskan turun dari tribun dan berjalan ke belakang mencari tongkat gak kepake. Ditengah pemburuan tongkat tampilah sesosok Ucup, saat itu dia jadi panitia. Langsung gue tegur -dan karena kita bukan maho jadi gak pake pelukan cipika-cipiki dulu..</p>
<p><em>“Cup ada tongkat nganggur..?”</em></p>
<p><em>“Nah kadada om ae..”</em></p>
<p><em>“kalau ada nanti sms lah.., nanti ku doakan cepat naik haji.. oke?”</em></p>
<p>Setelah itu kami berpisah, tentu bukan untuk selama-lamanya kayak ending cerita Titanic. Lagi pula saat itu adegannya gue gak lagi diatas perahu ditengah samudera, dan Ucup lagi tenggalam sambil beku merana.. Enggak. Yang ada juga Ucup ngeloyor lanjutkan kerja, dan gue ngikih-ngikih sampah di bawah tribun stadion..</p>
<p>Eh ketemu. Kalau ketemu artinya balik ketempat duduk..</p>
<p>Beberapa juta detik kemudian, saat gue lagi asik-asiknya menyaksikan acara sambil menggoyangkan kayu temuan. Seolah pak POS muncul lagi dikantong celana sambil membawa surat… <em>klinting.. klinting..</em></p>
<p>Sms masuk lagi dan ternyata dari nomor misterius yang tadi. Apa isinya sodara-sodara..?!</p>
<p><strong>[From 082119197xxx : tongkatnya gak ketemu masbro..]</strong></p>
<p>Sialun..! tenyata ini nomornya Ucup. Gue pun seperti mendapatkan panduan tafsir, kembali menafsir sms yang pertama menggemparkan tadi. Jadi ternyata ‘<strong>kwni k2 q’ </strong>itu bukannya<strong> ‘kawini kakak ku..’ </strong>Tapi artinya <strong>‘kawanin kakak ku..’ </strong>kapteeennn..!</p>
<p>Pasalnya gue baru ingat kalau kakaknya ucup lagi duduk dengan posisi pas dibelakang gue. Karena datang sendiri, makanya gue diminta menemani. Bukan mengawini. Sekali lagi gue kan bukan maho..</p>
<p>***</p>
<p>Payah deh. Masih soal timpangnya informasi yang mengakibatkan kekeliruan presepsi, dan berpangkal kesalahan pemahaman terhadap sesuatu yang sebenarnya terjadi.</p>
<p>Gue saat itu masih bersikap berlandaskan opini yang salah dari fakta yang sebenarnya menurut maksud isi SMS tersebut. Padahal fakta dan opini itu berbeda. Fakta adalah wujud presentasi yang sebenarnya dari sebuah objek (entah pemikiran ataupun benda). Sedangkan opini adalah bentuk presepsi dari sebuah fakta yang sudah melalui proses berfikir. Jadi sederhananya opini adalah buah dari kegiatan berfikir, sedangkan fakta adalah bahan baku untuk berfikir.</p>
<p>Berfikirpun tak cukup berlandaskan dari sebuah fakta saja. Berfikir memerlukan beberapa komponen agar proses berfikir bisa sempurna. Yaitu fakta, panca indra, otak, dan informasi sebelumnya. Tanpa ke empat komponen tersebut, maka proses berfikir akan tidak sempurna. Dan hasil dari pemikiran kita terhadap objek mungkin akan keliru, bahkan salah. Maka disanalah akar perbedaan pemikiran seseorang dangan orang yang lain. Disanalah sebab kesuksesan analisis pengamat dengan ketimpangan analisis orang lain. Lebih dikarenakan kesempurnaan empat komponen berfikir tersebut, dan kedetilan informasi yag diperoleh untuk melengkapi referensi otak kita bekerja.</p>
<p>Misalnya deh.. kita pingin berfikir mengenai sambal terasi. Dan faktanya sambal terasi itu memang ada di muka bumi karena mpok Hindun diwarungnya menyediakan sambel terasi. Bagi yang pernah berjumpa langsung dengan sambal terasi dan melakukan hubungan langsung, maka akan semakin mengerti pewujudan sambal terasi dibandingkan yang belum sama sekali mencicipinya. Maka pola pikir dia terhadap sambal terasi pasti berbeda dengan orang yang belum pernah ketemu sambal terasi atau sekedar mendengar informasi sambal terasi saja, tanpa berjumpa.</p>
<p>Karena jika indra tubuh tak turut membantu mengantarkan informasi ke otak kita. Lidah gak bergoyang merasakan pedas renyah, mata gak ngeliat kalau warnanya merah maroon, hidung gak mencium aroma udang dan pedas, tangan gak meraba benda lembek-lembek basah.. bagaimana bisa mau mendiskripsikan sambal terasi yang legendaris itu..?. Ditambah gak ada informasi sebelumnya yang mengatakan bahwa sambal terasi itu dibuat dari buah cabai, bawang, garam, dan terasi.. dan terasi itu sebenarnya dari udang yang digiling.. mungkin makhluk planet Mars bakalan mengira sambal terasi itu potongan asteroid encer yang berwarna merah..</p>
<p>Kurang satu komponen saja, maka proses berfikir gak akan sempurna. Coba.., apa yang dipikirkan orang purba kalau ketemu Ipad..? sedangkan dia gak punya informasi sebelumnya mengenai Ipad dari sumber informasi lainnya, -walaupun ia memiliki otak, dan ipad dihadapannya bisa diraba,endus,jilat, dan lihat tetap saja ia akan keliru memahami sebuah Ipad tersebut.</p>
<p>Atau coba bayangkan, suatu ketika kita mendapati sebuah hidangan diatas hotplate, berwarna coklat, berbentuk krim, ditaburi meses ceres, ditambahkan strowbery, dihidangkan dengan garpu dan sendok kecil, diatas meja café, dengan lantunan music jazzy.. kelihatannya nikmat..? <em>Hmmm.</em>. nikmati saja, namun masih merasa tertarikkah dikau jikalau ada yang menjelaskan kalau ternyata benda coklat, berbentuk krim itu hanyalah tahi kucing yang dihias..?!</p>
<p><em>Bleek!</em></p>
<p>Yah.. <em>like that,</em> Itulah kenapa tadi gue salah memahami, karena informasi sebelumnya terhadap sms tersebut belum sampai ke otak gue.. informasi yang menginfokan bahwa sebenarnya terjemahan dari sms itu jauh berbeda dengan terjemahan versi gue. Dan itulah yang dinamakan kegagalan berfikir. Kegagalan yang –kebanyakan- akibat dari kurangnya informasi sebelumnya yang diperoleh dan berpangkal pada berantakannya memproduksi kesimpulan di mesin otak..</p>
<p>Rumit bos..? <em>biarin.</em>.</p>
<p>Entah kenapa gue suka membahas teori berfikir ini. Teori ini sebenarnya sederhana namun mengena untuk menjelaskan hakikat manusia dalam berkontemplasi mencari pembenaran terhadap sesuatu yang ditemuinya. Dan seharusnya sebagai seorang hamba kita mesti menyandarkan paket-paket informasi mengenai suatu fakta objek, hanya pada informasi yang benar dan dibenarkan menurut syara’. Bahkan untuk sesuatu yang sulit terindra seperti sangarnya neraka, indahnya surga dan bohainya bidadari disana kita harus bersandar pada sumber-sumber informasi yang dihadiahkan Sang Pemilik Alam Semesta.</p>
<p>Bukan terkecoh pada bualan gombal pihak-pihak pendusta..</p>
<p><em>Ceileh.</em>. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>[]</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akbarlaksana.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akbarlaksana.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akbarlaksana.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akbarlaksana.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/akbarlaksana.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/akbarlaksana.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/akbarlaksana.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/akbarlaksana.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akbarlaksana.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akbarlaksana.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akbarlaksana.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akbarlaksana.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akbarlaksana.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akbarlaksana.wordpress.com/230/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akbarlaksana.wordpress.com&amp;blog=9104912&amp;post=230&amp;subd=akbarlaksana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akbarlaksana.wordpress.com/2011/08/14/%e2%80%9ckawinin-kakak-ku-%e2%80%9d-sambungan-perfect-thurt-popcorn-edisi-6-%c2%bd/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b1ce7060136d1015c617fd07b77af7ef?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">akbar khomeini</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://akbarlaksana.files.wordpress.com/2011/08/kaget.png?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">kaget</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menjadikan UNLAM sebagai  Universitas Penuh Inovasi</title>
		<link>http://akbarlaksana.wordpress.com/2011/07/21/menjadikan-unlam-sebagai-universitas-penuh-inovasi/</link>
		<comments>http://akbarlaksana.wordpress.com/2011/07/21/menjadikan-unlam-sebagai-universitas-penuh-inovasi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Jul 2011 12:35:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>AkbarLaksana</dc:creator>
				<category><![CDATA[opini di koran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akbarlaksana.wordpress.com/?p=208</guid>
		<description><![CDATA[Menjadikan UNLAM sebagai Universitas Penuh Inovasi Inovator dimasa modern ini telah memberikan beragam inovasi yang membuat kehidupan terasa semakin nyaman. Telah banyak produk inovatif yang disuguhkan dihadapan kita yang mungkin beberapa waktu yang lalu tidak pernah kita pikirkan akan pernah muncul didunia ini. Dahulu mungkin kita tidak pernah membayangkan akan semudah saat ini melakukan chatting &#8230; <a href="http://akbarlaksana.wordpress.com/2011/07/21/menjadikan-unlam-sebagai-universitas-penuh-inovasi/">Continue reading <span class="meta-nav">&#187;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akbarlaksana.wordpress.com&amp;blog=9104912&amp;post=208&amp;subd=akbarlaksana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1 style="text-align:center;"></h1>
<h1 style="text-align:center;"><strong>Menjadikan UNLAM sebagai<br />
Universitas Penuh Inovasi</strong></h1>
<p><a href="http://akbarlaksana.files.wordpress.com/2011/07/chalkboard_innovation11.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-213" title="chalkboard_innovation11" src="http://akbarlaksana.files.wordpress.com/2011/07/chalkboard_innovation11.jpg?w=300&#038;h=199" alt="" width="300" height="199" /></a></p>
<p>Inovator dimasa modern ini telah memberikan beragam inovasi yang membuat kehidupan terasa semakin nyaman. Telah banyak produk inovatif yang disuguhkan dihadapan kita yang mungkin beberapa waktu yang lalu tidak pernah kita pikirkan akan pernah muncul didunia ini. Dahulu mungkin kita tidak pernah membayangkan akan semudah saat ini melakukan <em>chatting </em>dengan sahabat diseberang samudera melalui fasilitas internet. Atau, menikmati kehandalan smartphone layar sentuh yang lengkap dengan fasilitas GPS nya. Bahkan bisa jadi, beberapa puluh tahun kedepan penduduk bumi dapat menikmati mobil terbang yang melayang diatas jalanan dan mengurangi kemacetan jalan darat.. <em>That’s possible, right?</em></p>
<p>Begitulah inovasi demi inovasi tercipta setiap harinya untuk menunjang kenikmatan hidup manusia. Mulai dari produk elektronik digital, internet banking, mainan anak-anak, hingga kreasi berbagai makanan unik dari bahan sederhana yang disulap menjadi menawan. Hidup memang terus bergerak, dan setiap perusahaan dipacu untuk terus meluncurkan aneka produk baru yang berbeda. Dengan kata lain tanpa inovasi sebuah perusahaan akan jatuh mati dalam arena persaingan bisnis yang semakin panas.</p>
<blockquote><p>Tak hanya dalam dunia bisnis yang menuntut sebuah karya inovatif sebagai peluru dalam setiap pemasaran, dunia organisasi masyarakat, pemerintah, bahkan lingkup ruang pendidikan pun perlu langkah pengembangan inovasi agar dapat menjadi yang terhandal dan terbaik, disamping pula untuk menyesuaikan dengan tuntutan zaman. Seperti sebuah prinsip dalam marketing perusahaan, bahwa sebuah produk atau jasa yang dapat diutamakan penikmatnya paling tidak menjadi yang <em>Be First, Be Better,and Be Different.<span id="more-208"></span></em></p></blockquote>
<p>Universitas Lambung Mangkurat (UNLAM) hingga saat ini adalah sebuah universitas tertua dan terbesar yang menjadi kebanggaan Kalimantan Selatan. Namun sayangnya dalam peringkat kualitas, UNLAM masih dalam jajaran dibawah dari seluruh universitas negri di Indonesia. Apalagi pemberitaan beberapa media belakangan ini, menguak keadaan UNLAM yang penuh dengan berbagai masalah yang pelik seolah menyalakan lampu darurat bahwa UNLAM perlu pembenahan.  Padahal dari potensi yang dimiliki, penulis yakin UNLAM dapat bangkit menjadi kampus yang maju dan melahirkan lulusan-lulusan yang tak kalah kompeten dan sejajar dengan berbagai universitas unggulan.</p>
<p>Pembenahan yang dilakukan untuk membangkitkan UNLAM memerlukan perubahan yang radikal (fundamen) dan menyeluruh. Tak hanya dalam pembaharuan dan penambahan fasilitas ataupun pengajar, namun lebih dari itu UNLAM harus bangkit secara sistemik menjadi perguruan tinggi negeri yang memacu diri dalam beragam inovasi. UNLAM harus memberanikan diri menjadi universitas yang selalu berubah secara dinamis dan massif, bukan lagi menjadi kampus yang selamanya mengekor universitas lain dan merasa puas dengan keadaan sekarang ini.</p>
<p>Paling tidak ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan untuk menjadikan UNLAM sebagai universitas yang penuh inovasi. Dan kedepannya inovasi yang terus diciptakan tersebut secara nyata mendongkrat kualitas UNLAM sebagai universitas yang membanggakan karena kualitasnya. Aspek yang pertama adalah penciptaan iklim inovasi dalam denyut kehidupan universitas. Tentu saja bahwa penciptaan iklim ini tak hanya dapat dilakukan melalui aneka slogan, teriakan orasi mahasiswa, yel-yel kampus atau <em>libs service</em> belaka. Iklim inovasi hanya mampu mekar melalui sistem pengelolaan manajemen yang peduli atas beragam gagasan dari berbagai civitas akademika kampus maupun eksternal.</p>
<p>Gagasan yang bergerak cair yang biasanya muncul dari para professional, pengamat, senat, hingga berbagai kalangan <em>grass root</em> universitas (mahasiswa, karyawan, dll) diusung melalui pola kepemimpinan yang terbuka, betapapun radikalnya gagasan tersebut. Karena dalam kenyataannya pola kepemimpinan yang sangat <em>respect</em> terhadap berbagai inovasi, disebut sebagai faktor kunci bagi mekarnya kreatifitas dilingkup organisasi. Dan tanpa pola kepemimpinan yang empowering dari para pimpinan universitas (dekan ataupun rektor), maka barisan internal kampus yang penuh daya kreatifitas sekalipun, niscaya akan layu dan tenggelam lantaran ide-idenya selalu terbentur dengan tembok birokrasi yang mematikan.</p>
<p>Aspek kedua, adalah adanya visi dan arah yang jelas mengenai strategi universitas menhadapai perkembangan dunia pendidikan masa depan. Tanpa strategi yang jelas, seringkali proses inovatif yang telah dimunculkan hanya akan berputar-putar ditempat tanpa mampu diwujudkan menjadi langkah karya unggul yang meningkatkan kredibelitas dan kualitas universitas. Ibarat sebuah inovasi yang berhasil ditelurkan bahkan ditetaskan menjadi sebuah karya, namun inovator tersebut dan organisasinya bingung hendak dipergunakan seperti apa dan bagaimana agar mampu menunjang organisasinya karena tak memiliki tujuan dan payung strategi yang jelas.</p>
<p>Aspek yang terakhir ialah kepekaan untuk mengantisipasi kebutuhan masa depan universitas maupun untuk memenuhi tuntutan pendidikan masyarakat. Keberhasilan ini harus diawali dari kemampuan mengendus perubahan dalam inovasi global dalam dunia pendidikan, seperti kemajuan teknologi khususnya dalam lingkup perguruan tinggi dan pengembangan konsep pembelajaran yang terpengaruh fasilitas modern seperti e-learning, e-report dan e-library.</p>
<blockquote><p>Dengan begitu sebuah strategi inovasi kampus memang harus selalu berpatokan pada dinamika pengembangan dan kebutuhan pendidikan. Dalam dunia bisnis biasa diutarakan sebagai <em>customer driven innovation strategy.</em></p></blockquote>
<p>Harus diakui, proses yang harus dijalani UNLAM untuk menjadi universitas yang inovatif memanglah tidak mudah, karena dibutuhkan keberanian, energi, upaya yang keras dan juga kreativitas yang terbaik untuk melaksanakan tiga aspek diatas secara optimal. Namun disaat dunia semakin menuju kearah yang semakin modern saat ini mungkin pilihan untuk UNLAM hanya ada dua; terus berinovasi atau tertinggal dibelakang.</p>
<p>Tentu kita mengharapkan UNLAM bangkit menjadi kampus yang terbaik bukan..? [akb]</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Akbar K. Laksana </strong></p>
<p><em>Direktur Utama LAMANGtechno sekaligus Mahasiswa Ilmu Komputer FMIPA UNLAM</em></p>
<p>E : <a href="mailto:akbarkhomeini@gmail.com">akbarkhomeini@gmail.com</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akbarlaksana.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akbarlaksana.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akbarlaksana.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akbarlaksana.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/akbarlaksana.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/akbarlaksana.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/akbarlaksana.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/akbarlaksana.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akbarlaksana.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akbarlaksana.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akbarlaksana.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akbarlaksana.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akbarlaksana.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akbarlaksana.wordpress.com/208/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akbarlaksana.wordpress.com&amp;blog=9104912&amp;post=208&amp;subd=akbarlaksana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akbarlaksana.wordpress.com/2011/07/21/menjadikan-unlam-sebagai-universitas-penuh-inovasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b1ce7060136d1015c617fd07b77af7ef?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">akbar khomeini</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://akbarlaksana.files.wordpress.com/2011/07/chalkboard_innovation11.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">chalkboard_innovation11</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>The Perfect Truth</title>
		<link>http://akbarlaksana.wordpress.com/2011/03/09/the-perfect-truth/</link>
		<comments>http://akbarlaksana.wordpress.com/2011/03/09/the-perfect-truth/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Mar 2011 13:30:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>AkbarLaksana</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel renyah]]></category>
		<category><![CDATA[cerita jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[POPCORN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akbarlaksana.wordpress.com/?p=200</guid>
		<description><![CDATA[Perfect Truth Ada sebuah cerita  yang masih gue ingat dan cukup seru buat gue ceritakan kembali.. Ceritanya begini, ada empat orang pemuda tuna netra yang ingin mengetahui apa itu gajah. Lalu, oleh seorang yang tidak tuna netra, mereka berlima diajak ke kebun binatang dimana gajah bunting berada. Setibanya dilokasi, masing-masing dari keempat pemuda itu kemudian &#8230; <a href="http://akbarlaksana.wordpress.com/2011/03/09/the-perfect-truth/">Continue reading <span class="meta-nav">&#187;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akbarlaksana.wordpress.com&amp;blog=9104912&amp;post=200&amp;subd=akbarlaksana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1 style="text-align:center;"><strong>Perfect Truth</strong></h1>
<p><strong><a href="http://akbarlaksana.files.wordpress.com/2011/03/elephant.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-203" title="elephant" src="http://akbarlaksana.files.wordpress.com/2011/03/elephant.jpg?w=225&#038;h=300" alt="" width="225" height="300" /></a><br />
</strong></p>
<p><em>Ada sebuah cerita  yang masih gue ingat dan cukup seru buat gue ceritakan kembali..</em></p>
<p>Ceritanya begini, ada empat orang pemuda tuna netra yang ingin mengetahui apa itu gajah. Lalu, oleh seorang yang tidak tuna netra, mereka berlima diajak ke kebun binatang dimana gajah bunting berada. Setibanya dilokasi, masing-masing dari keempat pemuda itu kemudian meraba-raba si gajah bunting dan kemudian mendeskripsikan apa itu gajah menurut mereka.</p>
<p>Pemuda pertama mendeskripsikan lebih dulu<em>, “gajah adalah sesuatu yang cukup lebar dan tipis juga elastis seperti kipas..”</em></p>
<p><em>“Bukan! Gajah itu sesuatu yang keras sekali, panjangnya kira-kira tiga jengkal, lumayan licin, runcing dan tajam pada ujungnya..”</em>,Pemuda kedua menyalahkan pemuda pertama.</p>
<p><em>“Salah! Gajah itu lentur, kecil tapi panjangnya kira-kira sepanjang lengan, dan diujungnya ada sejumput rambut”,</em> Pemuda ketiga menyalahkan kedua teman tuna netranya.</p>
<p><em>“eit..eit.. kalian salah! Gajah itu seperti telur yang amat besar sekali, tapi tidak keras melainkan cukup empuk meski permukaannya agak kasar..”,</em> Pemuda keempat ikut menimpali.</p>
<p>Kalian salah!</p>
<p>Tidak! Kamu yang salah!</p>
<p>Kamu tuh yang salah..!</p>
<p>Tidak, Cuma saya yang bener!<span id="more-200"></span></p>
<p>Mbak cantik yang memakai topi biru gambar tengkorak yang membawa mereka ke kebun binatang tadi tidak ingin kericuhan terus berlanjut. Ia pun kemudian menjelaskan, <em>“Kalian semua benar, tidak ada yang salah.. yang pertama tadi meraba telinga gajah, yang kedua meraba gading gajah, yang ketiga meraba ekor gajah, dan yang keempat meraba perut gajah. Tapi semuanya itu gajah. Jadi penafsiran kalian itu benar seperti yang kalian raba.. dan gak usah saling menyalahkan..”</em></p>
<p>“Maaf mbak..” gue yang hobi ke kebun binatang dan ceritanya juga lagi ada disitu ikut angkat bicara..</p>
<p>“<em>Ya ada apa mas yang ganteng kayak Brad Pitt..?”</em> (kalau mau muntah, muntah aja. Gue udah duluan tadi..)</p>
<p>“Menurut saya penjelasan mbak cantik tadi kurang tepat. Bukankah telinga gajah hanya sebagian dari gajah. Gading gajah hanyalah sebagian dari gajah, begitu juga ekor dan perut gajah juga hanya sebagian dari gajah. Kita tidak boleh mengatakan ‘itulah gajah’ , tapi katakanlah ‘itu bagian dari gajah’. Seharusnya, kepada yang belum mendapat pemahaman tentang gajah, mbak memberikan penjelasan yang menyeluruh tentang gajah sehingga mereka memahami gajah dengan benar dan sempurna, tidak sebagian-sebagian. Karena ketidaksempurnaan pemahaman akan mengakibatkan kekeliruan perilaku..”</p>
<p><em>“Ya.. kamu benar sekali. Kalo gitu maafkan saya..”</em></p>
<p>“Ok, saya maafkan, tapi tau kah mbak apa maksud saya menceritakan ini..?”</p>
<p><em>“saya ndak tau, kan kamu yang nulis cerita ini?!”</em></p>
<p>“O iya bener. Baiklah akan saya jelaskan maksud saya deh..”</p>
<p>***</p>
<p>Para pembaca yang budiman, suatu ketika gue juga pernah mendapatkan pengalaman menarik. Dulu ditengah perjalanan menuju masjid untuk berangkat sholat jumat, gue bersama beberapa kolega berada dalam adegan menyebrang jalan.</p>
<p>Ditengah adegan menyebrang tersebut, kami melihat sebuah motor polisi yang melintas dengan lampu motor yang saat itu menyala. Karena saat itu belum ada peraturan <em>light on</em> disiang hari, kontan salah satu teman gue berinisiatif memberitahu polisi tersebut.</p>
<p>Sambil sedikit menunjuk, pemuda berambut poni  yang ditakdirkan bernama Agus tadi berucap, <em>“lampu.. lampu..!”</em></p>
<p>Namun apa yang terjadi, bukan lampu yang matikan, justru polisi tersebut berhenti dan mendatangi teman gue tadi dengan muka geram nan indah sekali. Ia datang dengan wajah amarah berapi membentak si Agus. <em>“Hei kamu beraninya ya..! cari gara-gara kamu..?! Ngomong apa kamu tadi..!”</em></p>
<p>Si Agus pun pucat pasi sembari bingung, <em>“eh.. kenapa pak..?!”</em></p>
<p><em>“kamu ngomong apa tadi! Berani sama saya ya kamu?!”</em> Polisi antagonis melanjutkan kegeramannya.<em></em></p>
<p>Orang-orang datang berkumpul kebingungan. Diantara mereka masing masing bertanya ada apa gerangan. Setelah lama ocehan tak karuan polisi tersebut membingungkan kami, akhirnya gue mulai menangkap ketidaknyambungan emosi si polisi dengan kebingungan si Agus.</p>
<p><em>“Pak.. kawan saya ini tadi cuma ngomong lampu. Tadi lampu motor bapak nyala, kok diingatkan bapak malah marah..? emangnya apa salah kawan saya?” </em>sambil menirukan gaya bijak Si Doel anak sekolahan gue beranikan membela si Agus walau takut kalo si polisi hilang kontrol dan main-mainin pistol.</p>
<p>Setelah titah pamungkas gue ucapkan, kontan Si polisipun menunjukan muka yang aneh (entah malu, kaget, karena sadar akan kesalah pahamannya) yang akhirnya menurunkan nada bicara, dan mengucapkan kata-kata terakhir sebelum ngeloyor pergi, <em>“lain kali hati-hati kalo bicara kamu..”</em></p>
<p>Kemudian pergi begitu saja. Tanpa maaf pada si Agus..</p>
<p>Gue dan banyak orang yang terlanjur ngumpul disitu akhirnya tertawa karena melihat adegan konyol barusan. Kamipun akhirnya mengerti, mungkin polisi tersebut marah karena mengira si Agus mengatakan ‘Lempo’ (artinya : tolol!), padahal yang di ucapkan si Agus yang berlogat asli kota Barabai tadi adalah ‘Lampu’ (yang artinya ya lampu!)..</p>
<p>Sekali lagi ketidaksempurnaan pemahaman, mengakibatkan kekeliruan perilaku..</p>
<p>***</p>
<p>Gue sudah sering menjadi korban terhadap orang-orang yang salah presepsi dan timpangnya informasi sehinga gue sering kali ditimpakan emosi atau tindakan yang menyakiti hati.</p>
<p>Gue juga masih ingat saat berumur lima tahunan tetangga sebelah rumah datang dan marah-marah kepada orangtua gue, karena menurut laporan anaknya sendal jepit berkepala gajah anaknya  dirusak hingga hancur oleh tangan mungil gue saat itu. Orang tua gue yang saat itu merasa malu bersedia menganti kembali sandal berkepala gajah anak tetangga tersebut, dan gue yang tak bersalah malah kena omelan tanpa dasar yang kuat dan stigma negatif sebagai berandalan cilik. Padahal saat itu gue tak melakukan penganiayaan sedikitpun terhadap sendal kepala gajah yang sekarat tersebut.. <em>sumpeh!</em></p>
<p>Pun, pada akhirnya berselang beberapa hari kebenaran sejati terungkap. Anak tetangga yang memfitnah gue mengakui rekayasa kebohongannya, dan orangtuanya datang berbalik meminta maaf pada keluarga gue karena kepalsuan informasi yang mengakibatkannya salah presepsi terhadap kejadian yang sebenarnya.</p>
<p>Yah.. makanya gue bela-belain nulis kali ini karena gue udah capek mengalami kejadian yang tak mengenakkan hati macam itu. Mungkin banyak yang juga pernah menyaksikan atau bahkan mengalami salah tindak, salah ambil langkah, salah memahami, salah sangka akibat informasi yang kita serap tidak sesuai dengan fakta.</p>
<p>Pemahaman seseorang sangat bergantung terhadap pengetahuan-pengetahuan yang telah ia serap. Dan pengetahuan tersebut tersusun dari informasi-informasi dan fakta-fakta dari objek yang ingin diketahui. Kalau ternyata informasi yang diperoleh salah atau tidak sempurna, maka wajar pemahaman yang terbentuk akan pula keliru dan tidak sempurna. Hasilnya perilaku ia terhadap sesuatu itu akan ikut salah karena perilaku dipengaruhi oleh pemahaman. Bingung-bingung lu..! J</p>
<p>Pokoknya, berhati-hatilah terhadap informasi yang kita terima atau kita peroleh tanpa sumber yang jelas. Karena bisa jadi informasi yang kita terima tersebut merupakan informasi yang tidak tepat terhadap keadaan yang sebenarnya. Bisa saja suatu saat beredar isu bahwa penulis selebaran butut ini sebenarnya adalah bencong yang sering mangkal disimpang empat belakang kampus anda.. Maka saran gue sekali lagi janganlah percaya! Jangan percaya sebelum mengetahui fakta yang sebenarnya apalagi sumber informasinya tak jelas seperi itu. Padahal jelas-jelas gue bukanlah bencong pangkalan simpang empat. Tapi simpang tiga! :p</p>
<p>Bertabayyun lah terhadap informasi yang kita terima. Karena bertabayun lebih baik dari pada mengobati..! []</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akbarlaksana.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akbarlaksana.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akbarlaksana.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akbarlaksana.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/akbarlaksana.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/akbarlaksana.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/akbarlaksana.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/akbarlaksana.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akbarlaksana.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akbarlaksana.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akbarlaksana.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akbarlaksana.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akbarlaksana.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akbarlaksana.wordpress.com/200/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akbarlaksana.wordpress.com&amp;blog=9104912&amp;post=200&amp;subd=akbarlaksana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akbarlaksana.wordpress.com/2011/03/09/the-perfect-truth/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b1ce7060136d1015c617fd07b77af7ef?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">akbar khomeini</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://akbarlaksana.files.wordpress.com/2011/03/elephant.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">elephant</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Someone behind Somebody</title>
		<link>http://akbarlaksana.wordpress.com/2010/12/23/someone-behind-somebody/</link>
		<comments>http://akbarlaksana.wordpress.com/2010/12/23/someone-behind-somebody/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Dec 2010 06:41:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>AkbarLaksana</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel renyah]]></category>
		<category><![CDATA[POPCORN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akbarlaksana.wordpress.com/?p=191</guid>
		<description><![CDATA[Someone behind Somebody Suatu ketika disebuah sudut dunia imajinatif.. Dalam beberapa saat, gue pernah mengalami kerancuan berfikir mengenai pencapaian sukses. Dahulu yang tertanam dikepala ini sebuah kesuksesan merupakan pencapaian pribadi dengan tekad yang kuat untuk mencapai visi dengan disiplin nan penuh komitmen. Gue pun pernah menganggap sebuah prestasi yang telah tercapai merupakan hasil dari pengasahan &#8230; <a href="http://akbarlaksana.wordpress.com/2010/12/23/someone-behind-somebody/">Continue reading <span class="meta-nav">&#187;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akbarlaksana.wordpress.com&amp;blog=9104912&amp;post=191&amp;subd=akbarlaksana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1 style="text-align:center;"><strong>Someone</strong><strong> behind </strong><strong>Somebody</strong></h1>
<p><strong><a href="http://akbarlaksana.files.wordpress.com/2010/12/ibu.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-194" title="ibu" src="http://akbarlaksana.files.wordpress.com/2010/12/ibu.jpg?w=300&#038;h=260" alt="" width="300" height="260" /></a><br />
</strong></p>
<p><em>Suatu ketika disebuah sudut dunia imajinatif..</em></p>
<p>Dalam beberapa saat, gue pernah mengalami kerancuan berfikir mengenai pencapaian sukses. Dahulu yang tertanam dikepala ini sebuah kesuksesan merupakan pencapaian pribadi dengan tekad yang kuat untuk mencapai visi dengan disiplin nan penuh komitmen. Gue pun pernah menganggap sebuah prestasi yang telah tercapai merupakan hasil dari pengasahan disiplin intelektual pribadi. Sepenuhnya merupakan hasil dari kaidah kausalitas (saja) yang telah dijalani hingga seseorang yang seriuslah yang berhasil mencapainya. Tapi tahukan anda..? ternyata pemahaman itu keliru..!</p>
<p>Manusia bukanlah makhluk yang memiliki kekuatan untuk mengukuhkan dirinya. Manusia adalah makhluk yang tak mungkin memiliki eksistensi tanpa bantuan sekitarnya..</p>
<p><em>“Interupsi! Memangnya kenapa? Menurut eiyke sih bener-bener aja bang..! , </em>seorang banci dari ujung ruangan menyahut.</p>
<p><em>“Bukankah seseorang bisa ‘menjadi’ jika ia berusaha mewujudkannya. Jika kita ingin menjadi pedagang martabak telor yang sukses maka kita akan berusaha menjalani arah menuju keinginan kita. Jika sudah menjadi pedagang mertabak telor yang sukses, maka itulah keberhasilan yang kita dapatkan karena hasil jerih payah kita, bukan jerih payah orang lain. Ya kan..? Begitu pula jika ingin menjadi terkenal secara intelektual maka kita yang mesti merancang bangunan menuju puncak pencapaiannya. Dan hal itu merupakan hasil pencapaian kita seutuhnya.<span id="more-191"></span></em></p>
<p><em>Bukankah suatu kaum tidak mungkin bisa berubah jika kaum tersebut tidak mau mengubahnya? Termasuk kita. Kadang, orang sekitar kita bukannya malah mendukung, malah melecehkan, menghina-hina impian dan angan-angan kita untuk maju mewujudkannya..! bukankah begitu kan bang..?!”</em></p>
<p>Yah.. sekilas sih memang begitu. Sekilas semuanya merupakan jerih payah diri kita sendiri.. <em>hmm.</em>.</p>
<p>Tapi coba bayangkan, peperangan yang dilakukan oleh seorang jenderal bukanlah kemenangan atas dirinya saja. Disamping didukung oleh marinir, pasukan infanteri, atau yang mungkin dianggap sepele seperti juru masak pasukan yang berkreasi didapur-walaupun bukan dimedan pertempuran- bagaimana mungkin perang dimenangkan? Seorang jenderal setegap apapun membutuhkan suplai makanan untuk diri dan pasukan tempurnya. Seandainya gak ada yang menyuplai makanan, jenderal yang tegap itu bakalan kelaparan hingga tak kuat berperang, bahkan mengacungkan tongkat komandonya. Setiap manusia membutuhkan orang lain dalam kehidupannya..</p>
<p>Contoh lain deh.. seandainya punggung  kita gatal dan sulit untuk digaruk, dengan cara apa kita bisa meredakan gatalnya coba? Kita pasti membutuhkan orang lain untuk minta digarukkan..</p>
<p><em>“eh.. tapikan bang..bisa saja kita menggaruknya pake penggaruk punggung yang terbuat dari tempurung kura-kura kayak yang ada dirumah eiyke..! hayo..!”</em></p>
<p>Lah.. tetap saja kita gak bisa mengatakan itu hasil dari jerih payah kita sendiri. Siapa coba yang membuat garukan dari tempurung kura-kura tersebut..? orang lain juga kan..!</p>
<p><em>“tapi kalau kita sendiri yang bikin..!” </em>(si banci masih ngotot..)</p>
<p>Tetap kita tidak bisa menafikan peran kura-kura dalam membuat alat penggaruk itu kan..?! Sukses yang kita lakukan, sesungguhnya merupakan sukses kolektif yang dilakukan banyak orang untuk diri kita. Mereka lah pihak-pihak yang pasti berperan secara langsung atau tidak memberi gotong royong tindakan yang memuluskan usaha kita. Tak akan mungkin kita bisa menulis skripsi mantab jikalau kita tak mengawalinya dari belajar abjad dari orang yang mengajari. Tak akan mungkin kita bisa mencapai sarjana kalau yang bangun universitas tidak pernah ada. Atau akan sulit kita mengerti arti sabar dan menahan emosi seandainya tidak sekalipun hinaan orang sinis menghampiri diri kita.</p>
<p>Atau kamu sendiri gak bakalan ‘sukses’jadi banci, kalau teman kamu siapa namanya.. yang jakunnya gede itu..?</p>
<p><em>“mince bang maksudnya..?”</em></p>
<p>Ya! Seandainya si mince gak menghasut-hasut kamu mengajak ke dunia kebancian kan..!? padahal kamu sendiri dulunya seorang lelaki  tulen. Yang suka main bola di kebon kampung sebelah, yang pulangnya suka nyolong kelapa Bang Mamat itu kan..</p>
<p><em>“ya bang.. saya telah menempuh jalan yang salah.. maafkan saya..”</em></p>
<p>Ya oke. Kali ini gue maafkan..</p>
<p>#Dialog orang gila dicukupkan..</p>
<p>Meskipun dialog dengan banci sableng tadi begitu menjijikan, mau tidak mau gue kukuh dengan pemahaman bahwa sebuah pencapaian tidak mungkin terjadi tanpa bantuan pihak-pihak sekitar kita (selain pastinya ada pula Allah). Orang-orang yang mungkin tidak terlihat nyata membantu diri kita tetapi sesungguhnya mengangkat tangannya tinggi-tinggi untuk keberhasilan kita. Mereka mendoakan kesuksesan kita, yang tanpa kita tahu bisa jadi peran orang itulah yang sangat berarti dibandingkan usaha kita sendiri.</p>
<p>Dan gue pun tak bisa menampik, peran itulah yang telah diberikan oleh seorang ibu untuk keberhasilan anak-anaknya. Gue jadi teringat ibu yang kini terpisah pulau jauh disana yang menjadi sosok pembangun kepribadian gue saat ini..</p>
<p>Ibu yang bagi gue merupakan sosok mulia nan perkasa dan berhati lembut. Sosok yang pengertiannya begitu dalam mengalahkan dalamnya samudera. Sosok yang membuatkan gue teh hangat saat SMA dulu sering pulang kehujanan dari percetakan untuk mengurus buletin SMA. Sosok yang selalu membangunkan gue untuk sholat subuh saat masih terlelap karena telat tidur. Sosok yang membuatkan nasi goreng saat sarapan pagi.</p>
<p>Sosok yang mengajarkan tentang kasih sayang dan ketegaran menjalani hidup melalui sikap dan perilakunya tanpa menceramahi. Sosok yang tetap menyayangi gue meski seringkali membuat kecewa. Sosok yang gue cium tangannya yang mulai berkerut saat gue pergi atau pulang berkelana..</p>
<p>Uh.. padahal engkau tak tahu ibu. Anakmu ini kadang masih bengal dan mungkin belum bisa membanggakanmu. Anakmu yang masih menyusahkan dan suka bermanja sikap egois ini seperti tak peduli akan keadaan dirimu disana, saat sering  terhanyut dalam kehidupan dunianya sendiri.</p>
<p>Egois! Itulah cap yang gue berikan pada diri gue sendiri disaat masih suka mementingkan diri sendiri. Namun gue yakin 1000% ibu tak pernah memberikan cap tersebut pada diri gue. Ibu dengan kelembutan kasih sayangnya, kedalaman pengertiannya, tetap melantunkan doa-doa kebaikan untuk menguatkan di setiap langkah anaknya meraih kesuksesan.</p>
<p>Oh ibu, kenapa kau tega menyayangi anakmu yang kurang ajar ini?? (jawabannya tentu bukan karena ibu penyayang binatang). Kapankah anakmu ini akan membahagiakanmu?</p>
<p>Padahal ketika ditanyakan siapakah sosok yang harus dihormati didunia ini, Rasulullah sampai mengatakan tiga kali untuk menjawabnya : ibundamu, ibundamu, ibundamu..</p>
<p><strong><em>(22.58 wita, 22-12-2010, Hari Ibu)</em></strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akbarlaksana.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akbarlaksana.wordpress.com/191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akbarlaksana.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akbarlaksana.wordpress.com/191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/akbarlaksana.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/akbarlaksana.wordpress.com/191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/akbarlaksana.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/akbarlaksana.wordpress.com/191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akbarlaksana.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akbarlaksana.wordpress.com/191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akbarlaksana.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akbarlaksana.wordpress.com/191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akbarlaksana.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akbarlaksana.wordpress.com/191/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akbarlaksana.wordpress.com&amp;blog=9104912&amp;post=191&amp;subd=akbarlaksana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akbarlaksana.wordpress.com/2010/12/23/someone-behind-somebody/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b1ce7060136d1015c617fd07b77af7ef?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">akbar khomeini</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://akbarlaksana.files.wordpress.com/2010/12/ibu.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">ibu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sarimin VS Jason Bourne</title>
		<link>http://akbarlaksana.wordpress.com/2010/11/27/sarimin-vs-jason-bourne/</link>
		<comments>http://akbarlaksana.wordpress.com/2010/11/27/sarimin-vs-jason-bourne/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Nov 2010 12:40:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>AkbarLaksana</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[ngasal..]]></category>
		<category><![CDATA[POPCORN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akbarlaksana.wordpress.com/?p=187</guid>
		<description><![CDATA[Sarimin VS Jason Bourne teng-teng dung-dung..! teng dung &#8211; teng dung..! Hah! Gue pun terbangun kaget setelah sesaat tertidur sebentar disiang itu. Kaget, bukan karena pas gue bangun ada bencong lagi meluk gue. Tapi kaget, karena bunyi aneh yang tiba-tiba terdengar keras di sebelah kontrakan, tepatnya rumah tetangga cat abu-abu yang didepan rumahnya ada pohon &#8230; <a href="http://akbarlaksana.wordpress.com/2010/11/27/sarimin-vs-jason-bourne/">Continue reading <span class="meta-nav">&#187;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akbarlaksana.wordpress.com&amp;blog=9104912&amp;post=187&amp;subd=akbarlaksana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1 style="text-align:center;"><strong>Sarimin VS Jason Bourne</strong></h1>
<p><strong><a href="http://akbarlaksana.files.wordpress.com/2010/11/versus-logo.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-189" title="Versus-Logo" src="http://akbarlaksana.files.wordpress.com/2010/11/versus-logo.jpg?w=300&#038;h=282" alt="" width="300" height="282" /></a><br />
</strong></p>
<p><em>teng-teng dung-dung..! </em></p>
<p><em>teng dung &#8211; teng dung..!</em></p>
<p>Hah! Gue pun terbangun kaget setelah sesaat tertidur sebentar disiang itu. Kaget, bukan karena pas gue bangun ada bencong lagi meluk gue. Tapi kaget, karena bunyi aneh yang tiba-tiba terdengar keras di sebelah kontrakan, tepatnya rumah tetangga cat abu-abu yang didepan rumahnya ada pohon mangganya itu..</p>
<p><em>‘Lah emangnya ada apa dengan pohon mangganya?’</em></p>
<p>Yaa.. gak ada apa-apa sih..</p>
<p><em>‘Terus..kenapa dong jadi harus menjelaskan di depan rumah tetangga ada pohon mangganya?’</em></p>
<p>Hehe.. kalau bilang ada jemurannya, nanti kamu malah nanya deh..  apaan aja yang lagi ngegantung di jemuran itu..!</p>
<p><em>‘Oh.. gitu ya? Oke deh.. tau aja deh maksud eiyke..’</em></p>
<p>Kembali ke asal suara yang memecahkan keheningan tidur siang abang tadi..</p>
<p>Ternyata suara itu berasal dari pentas topeng monyet yang sengaja disewa tetangga buat mentas dan menghibur anak-anak komplek. Anak-anak yang gue liat begitu girangnya kedatangan si Sarimin <em>(nama default buat monyet yang atraksi)</em> tersenyum sumingrah persis kayak mahasiswa yang bahagia saat dengar kuliahnya diliburkan.<span id="more-187"></span></p>
<p>Lihat mereka, gue jadi ingat zaman masih muda dulu.., yah sama lah kayak anak-anak tersebut.. nongkrong, tepuk tangan, dan dengan antusiasnya menyaksikan si sarimin beratraksi ria dengan lincah menggunakan berbagai perlengkapan mini sejenis sepeda, gerobak, cangkul, arit, dan perlengkapan lain yang biasa ada di ransel kuliah gue itu.</p>
<p>Si sarimin berjungkir balik, tidur, berguling, dan seolah menelpon. Namun si sarimin tentu tidak mengerti apa sebenarnya gerakan  yang dia lakukan, sampai membuat penonton tertawa. Yang ada di pikiran si Sarimin, pokoknya lakukan saja yang sudah diajarkan dan diperintah si bos, maka dia bisa dapat pisang saat selesai pertunjukan nanti. Sarimin gak perlu protes walau diperintah berkali-kali, gak pernah membangkang walau aksinya itu dikomersilkan majikannya untuk mendapatkan penghasilan. Karena si sarimin sadar dia hanya binatang yang gak punya : akal! <em>(gak punya akal kok bisa sadar juga yak?!)</em> Dan yang pasti, si Sarimin gak pernah terlintas untuk bertanya-tanya “buat apa gue melakukan semua ini..?? why???” bagi si sarimin <em>life is just a matter of surviving..</em></p>
<p>Ya gak min?! hehe</p>
<p>Bicara Si Sarimin yang <em>easy going</em> tidak pernah mempertanyakan tujuan hidupnya, gue jadi ingat Si Jason Bourne yang skeptis dalam film Trilogi Bourne kesukaan gue.</p>
<p>Gue ingat, dalam ending film trilogi Bourne -atau tepatnya di ujung film Bourne Ultimatum, Si Bourne (Matt Damon)yang tersudut dan ditodongkan pistol bertanya dengan seorang agen yang saat itu ingin membunuhnya, <em>“apakah kamu tahu buat apa kamu membunuhku? Selama ini apakah kita mengerti mengapa kita melakukan semua ini?”.</em> Setelah dikatakan seperti itu, kemudian si agen kebingungan dan tidak jadi menembak si Jason Bourne. Akhirnya Si Bourne melompat ke sungai, dan… TAMAT.</p>
<p>Jadi suatu saat nanti kalau kita ketemu preman yang mau ngebajak, tinggal ucapkan aja kayak di film Bourne tadi, <em>“bang.. ke’napa pula lah kau mau me’malak-malak aku’ ini..? apakah abang menge’rti me’ngapa se’benarnya abang me’lakukan itu, bah?!”</em></p>
<p>Paling si abang preman malah tambah ganas menjawab, <em>“buat anak bini gue dodol! Lu gak usah ngasih ceramah lahh, mending kasih dompet lu!!”</em></p>
<p>Hehe</p>
<p>Yah..! kalaupun nanti tidak berhasil menghindari preman, tetaplah pahami apa maksud Si Jason Bourne menanyakan ‘mengapa’ tadi. Pertanyaan ‘mengapa’ yang harusnya kita renungi bersama, dan menjadikan kita bisa memahami apa landasan kita berbuat. Pertanyaan ‘mengapa’ yang bisa menunjukkan apakah perbuatan yang kita lakukan sesuai atau tidak dengan prinsip akidah keyakinan kita. Pertanyaan ‘mengapa’ yang bisa menjabarkan alur hidup serta tujuan kita selama ini memilih  melakukan sesuatu yang kita anggap harus kita kerjakan.</p>
<p>Karena gue sadar saat ngaca gue sama sekali gak mirip sama Si Sarimin! (masa..?). Yang telak membedakan gue sama si Sarimin, jelas Si Sarimin bertindak hanya bersadarkan instinknya saja.. hanya merespon berdasarkan instinknya saja.. sedangkan gue, gue merespon setelah menggunakan akal.. karena gue manusia <em>euy</em>..!</p>
<p>Sama! sama seperti saat dahulu gue pernah mengikuti sebuah training yang dibawakan oleh seorang ustadz mualaf, ada kalimat menarik yang masih gue ingat, <em>“kita selama ini cuma berkutat, dan diajarkan mengenai ‘what and how’ tapi gak pernah ‘why’. Kita mungkin tahu sholat itu apa, bagaimana caranya, tapi kita kebingungan menjawab kenapa kita sholat?.. kita mungkin tahu islam itu apa, dan bagaimana islam itu, tapi kita masih ragu menjawab mengapa kita harus islam..”</em></p>
<p>Beliau yang biasa dipanggil ustadz Felix Siauw itu, menambahkan argumen yang menghantarkan peserta training untuk lebih lanjut memaknai lebih dalam tujuan hidupnya, <em>“banyak yang ketika ditanya manusia berasal darimana? dijawab dengan lantang dari Allah.., mau ngapain didunia? Dijawab dengan enteng beribadah kepada Allah.., Setelah mati kemana? Dengan lugas menjawab kembali kepada Allah.., tapi sayangnya mereka gak yakin 100% Tuhan mereka adalah Allah.. buktinya masih banyak yang mencampakkan aturan islam, dengan lebih memilih aturan yang melanggar islam”</em></p>
<p>Gitu juga, selama kita tidak yakin 100% dengan jawaban ‘because’ kita,  maka kita juga akan ragu atas segala perbuatan yang kita kerjakan apakah sudah memang benar atau malahan tidak.. kita mungkin juga akan ragu ibadah kita ini benar harus dikerjakan atau tidak..</p>
<p>Malah mungkin, selama ini kita melakukan aktifitas yang ternyata tidak sesuai dengan jawaban ‘because’ kita. Jawaban syahadat yang seharusnya kita jawab dan menjadi landasan kita melakukan aktifitas. Aktifitas yang juga ternyata tidak dibiarkan bebas sekehendaknya, namun diatur demi menjaga kemuliaan dan juga mengandung konsekuensi hasil akhir di akhirat nanti..</p>
<p><em>“Telah kami tunjukkan kepadanya dua jalan hidup (baik dan buruk)”</em> <strong>(Al Balad [90]:10)</strong></p>
<p><em>“Setiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya”</em><strong> (Al Mudatsir [74]:38)</strong></p>
<p>Sekarang kita diberi pilihan untuk bersikap. Memilih menjadi seperti Sarimin yang berperilaku sesuai naluri kebinatangannya,- karena ia tidak memiliki akal.. atau seperti Jason Bourne yang tidak ceroboh bertindak dan dengan sadar memikirkan buat apa ia membunuh sedangkan  itu adalah tindakan yang tidak benar..???</p>
<p>Pilihan ada ditangan kalian. Tapi mungkin yang ada ditangan kalian sekarang ini adalah selebaran kumal POPCORN.. dan POPCORN bukanlah pilihan, tapi membacanya adalah sebuah pilihan..</p>
<p>Ya kan? Garing euy! []</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akbarlaksana.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akbarlaksana.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akbarlaksana.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akbarlaksana.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/akbarlaksana.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/akbarlaksana.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/akbarlaksana.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/akbarlaksana.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akbarlaksana.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akbarlaksana.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akbarlaksana.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akbarlaksana.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akbarlaksana.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akbarlaksana.wordpress.com/187/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akbarlaksana.wordpress.com&amp;blog=9104912&amp;post=187&amp;subd=akbarlaksana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akbarlaksana.wordpress.com/2010/11/27/sarimin-vs-jason-bourne/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b1ce7060136d1015c617fd07b77af7ef?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">akbar khomeini</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://akbarlaksana.files.wordpress.com/2010/11/versus-logo.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Versus-Logo</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
